Tantangan Perguruan Tinggi ASEAN di Masa Pandemi

Content Promotion - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 18:06 WIB
Universitas Katolik Parahyangan
Foto: Universitas Katolik Parahyangan
Jakarta -

Masa pandemi saat ini memberikan tantangan bagi institusi pendidikan berbagai tingkat. Secara global, penyebaran pandemi menghasilkan berbagai perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, baik dalam proses pembelajaran maupun interaksi sosial di antara peserta didik dan tenaga pengajar.

Di sisi lain, perubahan yang terjadi memberikan dampak positif bagi inovasi pendidikan. Contohnya, adaptasi pembelajaran digital di lingkungan pendidikan dasar, menengah hingga tinggi di seluruh dunia. Tanpa situasi yang mendorong terjadinya jarak fisik dan sosial antarmanusia ini, tentu digitalisasi pendidikan tidak akan berkembang secepat saat ini.

Di sisi lain, masa pandemi dan normal baru atau 'new normal' yang menyertainya memberikan kesempatan inovasi bagi institusi pendidikan di seluruh dunia untuk beraksi dan bertindak nyata bagi masyarakat global.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi ASEAN Learning Network atau ALN sebagai jejaring perguruan tinggi kawasan Asia Tenggara, salah satu organisasi di mana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) terlibat aktif sebagai anggotanya.

Jejaring Regional

Dikarenakan situasi pandemi, pertemuan Executive Committee (Exco) ALN pada tahun 2020 yang seyogyanya dilakukan secara tatap muka pun tidak dapat dilakukan. Unpar sebagai tuan rumah pertemuan menanggulangi keterbatasan ini dengan mengadakan rapat Exco ALN daring perdana.

Selain sebagai wujud komitmen Unpar dalam menanggulangi pandemi dengan meniadakan interaksi fisik, pertemuan daring ini juga memungkinkan seluruh anggota ALN untuk hadir dan berdialog real-time secara virtual.

Kegiatan ini diselenggarakan pada Senin, 6 Juli 2020, dengan melibatkan partisipan dari 16 institusi anggota ALN di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, serta perwakilan institusi yang berstatus sebagai pengamat atau observer. Adapun pencetus ALN, Prof Em. Dr. Chong Li Choy, mengikuti rapat daring secara langsung dari St. Gallen, Swiss.

Situasi global menjadi salah satu topik yang dibahas khusus dalam rapat ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai elemen dan aktivitas ALN terdampak karena hal tersebut. Namun, seluruh anggota ALN tetap optimis dalam menjalin kolaborasi dan melangkah bersama menghadapi masa pandemi ini. Pertemuan dan diskusi yang berlangsung secara positif memperkuat kerjasama ALN.

Menjawab Tantangan

Bertepatan dengan pertemuan Excom ALN, Unpar bersama ALN menyelenggarakan Webinar Internasional bertajuk 'Surviving and Thriving Beyond the COVID Pandemic-Charting the New Normal'. Webinar yang diselenggarakan pada Selasa, 7 Juli 2020 ini diikuti oleh lebih dari 300 partisipan yang berasal tidak hanya dari Asia Tenggara, tetapi juga dari berbagai penjuru dunia. Webinar juga ditayangkan secara langsung melalui siaran Live Streaming YouTube.

Sesuai tema, webinar menyorot tantangan yang dihadapi institusi pendidikan tinggi di tengah pandemi, sekaligus membahas peran intelektual institusi dalam mendukung masyarakat menyongsong Normal Baru.

Dalam paparan kuncinya, Prof Em. Dr. Chong Li Choy mengungkapkan momen ini menjadi momen transformasi bagi ALN dan para anggotanya untuk menjawab tantangan sesuai konteks masa kini, sekaligus mempersiapkan peserta didik akan penguasaan teknologi dan pemahaman bidang ilmu yang mumpuni.

Sesi pertama yang dipandu oleh Sylvia Yazid, Ph.D. dengan tajuk 'The Future of Higher Education' menghadirkan perspektif dari tiga pimpinan institusi pendidikan tinggi akan tantangan yang hadir dalam situasi pandemi global, serta solusi terhadap tantangan tersebut.

Paparan Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D. menyoroti pentingnya deregulasi kebijakan dan peran aktif pemerintah bersama institusi dalam menciptakan kampus dan mahasiswa yang 'merdeka', mampu beradaptasi. dan berinovasi sesuai dengan situasi terkini.

Selanjutnya, Prof Em. Dato' Ir. Zainai Mohamed selaku Rektor Universiti Teknologi Malaysia (UTM), serta Rektor Universitas San Beda Filipina Rev. Fr. Aloysius Ma. A. Maranan, OSB berbagi pengalaman dari institusi yang mereka pimpin dalam menghadapi pandemi.

Dengan memanfaatkan metode dan teknologi secara tepat, perguruan tinggi mampu beradaptasi tanpa menghilangkan esensi pembelajaran dan nilai-nilai yang dijunjung masing-masing institusi.

Sambut Normal Baru

Dalam sesi kedua yang dipandu oleh Fernando Mulia, S.E., M.Kom. dari Unpar, tiga orang pembicara mengemukakan pandangan akan tantangan dan peluang menyambut Normal Baru dalam topik 'Charting the New Normal'. Pemanfaatan teknologi secara tepat menjadi kunci dalam inovasi Normal Baru ini.

Dari pandangannya masing-masing, Prof. Dr. Salleh Abd Rashid (Universiti Malaysia Perlis - Malaysia), Retno A. Ekaputri, Ph.D. (Universitas Bengkulu - Indonesia) dan Dr. Eaknarin Ruangrak (Prince Songkla University - Thailand) sepakat bahwa institusi pendidikan tinggi perlu menjadi penggerak dalam inovasi Normal Baru yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Melalui keikutsertaan dengan organisasi dan jejaring universitas internasional, Unpar terus aktif menjalin kolaborasi dengan komunitas pendidikan tinggi di tingkat regional serta global. Melalui pertukaran ilmu dan kerja sama mutualisme, Unpar berkomitmen untuk mengembangkan diri dan memberikan pengalaman belajar terbaik bagi komunitasnya. Internasionalisasi ini kian penting dalam menghadapi masa depan pascapandemi yang penuh tantangan dan peluang berinovasi.

(ads/ads)