Kasus Corona Bertambah, Klaster ASN Maros Jadi 45 Orang

Moehammad Bakrie - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 14:18 WIB
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium.
Ilustrasi tes Corona. (Agung Pambudhy/detikcom)
Maros -

Kasus Corona di lingkungan aparatur sipil negara (ASN) terus bertambah. Terakhir, jumlah ASN positif terpapar virus Corona menjadi 45 orang.

"Hari ini ada 1 orang ASN yang positif, totalnya sekarang itu ada 45 orang dari 4 sampai 5 OPD yang terpapar 1-2 orang. Memang asalnya dari kantor inspektorat ya, dari situ kan ada mungkin yang punya istri di OPD lain, nah itu yang tertular dan menyebar ke OPD lainnya," kata Jubir Gugus Tugas COVID-19 Maros, Syarifuddin, Jumat (24/7/2020).

Pemkab Maros berencana memperpanjang masa work from home (WFH) bagi para ASN. Namun, petugas medis di rumah sakit dan puskesmas tetap bertugas seperti biasa.

"Karena belum semua ada hasilnya keluar (swab), kita tunggu saja dulu. Kalau mungkin banyak bisa saja WFH akan dilanjutkan," lanjutnya.

Pemkab Maros belum bisa mendeteksi asal muasal munculnya klaster ASN Maros ini. Sampai saat ini, belum diketahui ASN Maros pertama yang terpapar Corona.

"Kita belum tahu persis dari mana asal muasalnya, karena kita tidak bisa pastikan siapa yang duluan menyebarkan. Saat ini kita konsentrasi melakukan tracing ke ASN yang pernah kontak dengan orang positif dulu biar tidak makin menyebar ke mana-mana," jelas Syarifuddin.

Sejauh ini, 374 orang di Kabupaten Maros terkonfirmasi positif Corona. Sebanyak 228 di antaranya sudah sembuh.

"Saat ini ada 374 kasus positif, kita urutan ke-3 di Sulsel. Sembuh 61 persen, kalah sama Bulukumba 70 persen, menyusul Makassar 50 persen. Ya kita sementara susun perdanya, di situ akan adan diatur sanksi atau denda bagi pelanggar protokol kesehatan," pungkasnya.

(isa/isa)