Hari Anak Nasional, MPR Soroti Meningkatnya Perundungan Siber pada Anak

Abu Ubaidillah - detikNews
Kamis, 23 Jul 2020 18:51 WIB
MPR
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) meyakini anak-anak Indonesia memiliki kemampuan melebihi anak-anak negara lain. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya anak Indonesia yang menorehkan prestasi internasional di tengah keterbatasan ekonomi dan sosial.

Misalnya seperti Joey Alexander, pianis 13 tahun yang mendapat nominasi Grammy Award 2016 atau Yuma Soerianto, programmer termuda di konferensi World Wide Developers Conference 2017 yang membuat CEO Apple, Tim Cook terkagum. Tidak ketinggalan ada Rafi Abdurrahman Ridwan, desainer penyandang disabilitas yang sukses menjadi perancang busana event America's Next Top Model.

Hal ini disampaikan Bamsoet dalam peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada hari ini bersama Families and women Specialist Forum, Perkumpulan Lions Indonesia Multi Distrik 307 yang diselenggarakan secara virtual dan hadir terbatas dari ruang kerja Ketua MPR RI.

"Selain menjadi penyejuk jiwa, anak merupakan masa depan peradaban bangsa. Hal ini menunjukan kuatnya korelasi antara upaya perlindungan anak dengan upaya memajukan bangsa dan negara. Karena itu sangat penting bagi anak-anak Indonesia bisa lahir, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan sosial yang sehat," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (23/7/2020).

Selain menyoroti prestasi, Bamsoet juga menyoroti hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja tahun 2018 yang menyimpulkan 2 dari 3 anak remaja (67%) pernah mengalami kekerasan dalam hidupnya baik secara fisik, emosional, atau seksual. Sebagian besar pelakunya justru merupakan teman atau sebaya mereka.

"Sebagai rujukan lain, Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat perbandingan jumlah data kasus kekerasan terhadap anak dari tahun 2011 hingga 2018. Pada tahun 2011 tercatat kekerasan terhadap anak sebanyak 2.178 kasus, dan pada tahun-tahun berikutnya cenderung mengalami peningkatan, hingga pada tahun 2018 tercatat sebanyak 4.885 kasus," paparnya.

Ia menambahkan dalam suasana pandemi COVID-19 tingkat kekerasan terhadap anak masih terjadi sesuai data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONIPPA) yang menyebut ada 3.000 kasus kekerasan terhadap anak sejak 1 Januari - 19 Juni 2020 dengan rincian 852 kekerasan fisik, 768 kekerasan psikis, dan 1.848 kekerasan seksual.

"Beragam kekerasan terhadap anak tersebut harus kita respons dengan serius. Upaya preventif harus menjadi langkah utama. Pembekalan pengetahuan yang mencukupi mengenai perlindungan diri bagi anak-anak kita, harus ditanamkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan sosial di sekitar kita," lanjutnya.

Ia menilai lompatan kemajuan teknologi di satu sisi memberi berbagai kemudahan, namun di sisi lain punya potensi dampak negatif khususnya bagi anak-anak. Kejahatan berbasis siber dan perundungan melalui media sosial adalah beberapa contohnya.

"Kecanduan mengakses internet mendorong anak-anak menjadi antisosial. Melalui internet pula, pornografi dan berbagai paham radikal dengan mudahnya meracuni alam pikiran anak-anak. Karena itu, penting bagi kita untuk membangun karakter anak-anak kita agar mampu membentengi diri mereka dari berbagai pengaruh negatif. Salah satunya melalui Empat Pilar MPR RI," tegasnya.

Sebagai informasi, dalam acara ini turut hadir pula Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Bintang Puspayoga, Ketua Family and Women's Specialist Forum Perkumpulan Lions Indonesia Multi Distrik 307, yang juga Anggota DPD RI dari Provinsi DKI Jakarta, Sylviana Murni, dan Ketua Dewan Gubernur Perkumpulan Lions Indonesia Yodianto Jaya.

(mul/ega)