Tanoto dan Sampoerna Buka Suara soal Lolos Organisasi Penggerak Kemendikbud

Rahel Narda Catherine - detikNews
Kamis, 23 Jul 2020 13:48 WIB
Logo Kemendikbud
Logo Kemendikbud. (Foto: dok. Kemendikbud)

Selain itu, Head of Marketing and Communications Yayasan Putera Sampoerna, Ria Sutrisno, menjelaskan pihaknya juga lolos dalam Program Organisasi Penggerak. Namun Ria mengatakan organisasinya mengikuti POP dengan menggunakan skema matching fund.

Dijelaskan, Yayasan Putera Sampoerna mendukung dana dengan nilai hampir Rp 70 miliar untuk mendukung program peningkatan kualitas guru dan ekosistem pendidikan serta Rp 90 miliar untuk mendukung program peningkatan akses pendidikan.

"Ini bukan CSR. Kami adalah yayasan yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan. Kami memilih skema partnership dengan berbagai pihak sebagai wujud komitmen kolaborasi dalam memajukan pendidikan nasional," kata Ria dalam siaran pers Kemendikbud yang sama.

Diketahui sebelumnya, Muhammadiyah dan LP Ma'arif PBNU menyatakan mundur dari POP. Muhammadiyah mundur karena protes soal kriteria terkait lembaga CSR dan mengusulkan agar hasil seleksi ditinjau lagi.

Selain itu, Kemendikbud menjelaskan skema pembiayaan Program Organisasi Penggerak (POP). Pembiayaan itu di antaranya bersumber dari bantuan pemerintah hingga pendanaan mandiri dari organisasi peserta.

"Program Organisasi Penggerak (POP) yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memiliki tiga skema pembiayaan. Selain murni Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terdapat skema pembiayaan mandiri dan dana pendamping (matching fund). Sejumlah organisasi penggerak akan menggunakan pembiayaan mandiri dan matching fund," kata Kemendikbud dalam keterangan yang diterima detikcom, Kamis (23/7).

Halaman

(dkp/dkp)