Lestarikan Pesut Mahakam, Bupati Kukar Terbitkan SK Kawasan Konservasi

ADVERTISEMENT

Lestarikan Pesut Mahakam, Bupati Kukar Terbitkan SK Kawasan Konservasi

Suriyatman - detikNews
Rabu, 22 Jul 2020 18:26 WIB
Bupati Kutai Kartanegara Edi Darmansya.
Bupati Kutai Kartanegara Edi Darmansyah. (Foto: dok. Istimewa)
Samarinda -

Kawanan pesut muncul di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, viral di media sosial. Pemkab Kutai Kartanegara sudah menerbitkan Surat Keputusan Nomor 75/SK/-BUP/HK/2020 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Habitat Pesut Mahakam sebagai upaya melestarikan hewan endemik itu.

"Ini upaya Pemkab Kukar bagaimana bisa tetap menjaga dan melestarikan satwa endemik yang kita miliki, pesut Mahakam, yang kita ketahui populasinya semakin tahun terus berkurang," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara Dadang Supriatman, Rabu (22/7/2020).

SK itu ditandatangani Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah. Kawasan konservasi ini mencakup area dengan total luasan 43.117.22 hektare yang terdiri atas 1.081.28 hektare zona inti dengan larangan ketat kegiatan penangkapan ikan. Lalu 14.947.65 hektare zona perikanan berkelanjutan, 2.169.44 hektare hutan sempadan sungai.

Lalu 563,79 vegetasi/hutan sempadan danau, 24.355,06 hektare zona rehabilitasi dan perlindungan berupa gambut dan rawa-rawa serta hutan.

"Dengan penetapan ini, dipastikan kami mampu mempertahankan keberadaan pesut Mahakam di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan pastinya masyarakat juga sudah mulai melakukan penyesuaian untuk tidak menggunakan alat tangkap yang membahayakan pesut Mahakam," kata Dadang.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara juga telah bekerja sama dengan Yayasan Konservasi RASI. Dadang berharap dengan adanya SK ini pengelolaan sumber daya ikan bisa lebih baik, termasuk peningkatan kualitas air dengan mempertahankan fungsi alami rawa dan hutan sempadan sungai.

Berdasarkan pantauan RASI, jumlah habitat pesut yang ada di Sungai Mahakam ada sekitar 85 ekor yang tersebar.

"Kami dapat informasi bahwa saat ini RASI telah memantau keberadaan pesut Mahakam melalui alat yang bernama Aquistik yang dipasang di dasar sungai. Di Sungai Pela ini dilakukan untuk memantau lalu lalang pesut Mahakam, sehingga apa saja yang terjadi di area konservasi kita atau khususnya RASI dapat mengetahuinya," jelas Dadang.

"Berdasarkan data yang kita dapatkan, jumlah yang mati sama yang lahir itu sama saja. Jika tahun ini ada kelahiran 5 individu pesut, tahun ini juga ada yang mati. Biasanya mati karena kena baling-baling, jaring, dan lain-lain," kata Dadang.

Kemunculan pesut Mahakam ini diharapkan warga di sepanjang Sungai Mahakam. Apalagi pesut saat ini merupakan salah satu hewan yang langka.

"Di beberapa negara di Asia yang pernah ada pesut, seperti Vietnam, Myanmar, sudah tidak ada lagi. Jadi wajar jika pemerintah Kukar melakukan tindakan penyelamatan terhadap pesut Mahakam dengan menyediakan lahan konservasi khusus untuk pesut Mahakam ," ujar Dadang.

(idn/idn)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT