Gorontalo Jadi Provinsi dengan Laju Kematian Corona Tertinggi

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Rabu, 22 Jul 2020 14:43 WIB
Poster
Ilustrasi kematian akibat virus Corona (Foto: Edi Wahyono)
Jakarta -

Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 melihat laju insidensi untuk mengetahui penyebaran virus Corona (COVID-19) di daerah. Selain melihat laju insidensi untuk kasus positif, Tim Pakar juga mengukur laju insidensi kematian akibat COVID-19.

Anggota Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah menjelaskan laju insidensi adalah jumlah kasus positif yang dibagi dengan jumlah penduduk di suatu daerah. Dengan penghitungan yang sama, Tim Pakar juga menghitung laju insidensi untuk angka kematian dengan Gorontalo yang memiliki kecepatan laju insidensi kematian tertinggi.

"Provinsi yang angka kematiannya bertambah dengan cepat pada pekan terakhir per tanggal 19 Juli adalah Gorontalo dengan angka 0,7 per 100 ribu penduduk penambahannya nih. Tiga paling besar ada Gorontalo, kedua Kalimantan Selatan, ketiga adalah Sulawesi Selatan," kata Dewi dalam konferensi pers yang disiarkan YouTube BNPB, Rabu (22/7/2020).

Selain itu, Tim Pakar juga melihat laju insidensi kematian di kabupaten/kota untuk mengetahui pengendalian penularan di suatu daerah. Hasilnya, Kota Banjar Baru memiliki laju insidensi kematian akibat Corona tertinggi, disusul Surabaya.

"Karena kan kalau angka positif berarti menunjukkan kecepatan penularan, tapi kalau angka kematian, (menunjukkan) bagaimana penanganan dan pengendalian yang ada di wilayahnya. Ternyata yang pertama adalah Kota Banjarbaru. Kecepatan laju kematiannya 4,6 per 100 ribu penduduk," ujar Dewi.

"Kedua adalah Kota Surabaya 3,8 per 100 ribu penduduk, ketiga adalah Kota Mataram, keempat Makassar, dan kelima Gresik," imbuhnya.

Dewi juga menyebutkan ada 409 kabupaten/kota yang tidak ada penambahan angka kematian COVID-19 dalam waktu satu minggu terakhir. Dewi pun meminta semua daerah tetap waspada dan tidak lengah menghadapi COVID-19.

"Ternyata ada 409 kabupaten/kota yang tidak ada penambahan angka kematian COVID-19 dalam waktu satu minggu terakhir. Kita harus tetap hati-hati dan waspada. Nggak bisa kita merasa sudah aman begitu saja, padahal ketika kita sudah mulai lengah, merasa 'ah daerah saya kan tidak ada kasusnya', jangan cepat merasa puas dengan apa yang dimiliki," tutur Dewi.

Sebelumnya diberitakan, Tim Pakar Satgas COVID-19 mengukur kecepatan laju insidensi bisa digunakan untuk melihat daerah yang penambahan kasusnya lebih cepat, dan dipantau setiap minggunya. Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan kecepatan laju insidensi tertinggi dalam sepekan terakhir.

"Ternyata provinsi yang kecepatannya lajunya paling tinggi yang pertama adalah Kalimantan Selatan, pekan terakhir ini ya, seminggu terakhir. Ini kita bandingkan pekan terakhir dengan pekan sebelumnya," ujar anggota Tim Pakar Satgas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah, Rabu (22/7).

DKI Jakarta berada di peringkat kedua kecepatan laju insidensi tertinggi. Disusul dengan Bali di peringkat ketiga.

"Yang kedua adalah DKI Jakarta dengan 17,8 per 100 ribu penduduk. Ketiga Bali, kita lihat oh berarti ada kecepatan nih di sana, penambahan kasusnya cukup berarti di pekan terakhir nih kalau kita lihat dibandingkan dengan provinsi-provinsi yang lain," tutur Dewi.

(azr/dnu)