Analisis: Isu 'Klepon Tidak Islami' Sengaja Dibikin Picu Kegaduhan

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 22 Jul 2020 12:31 WIB
Kue Klepon disebut jajanan tak islami
Foto ilusrasi: Klepon (iStock)
Jakarta -

Isu klepon tidak Islami ramai dibahas di media sosial (medsos). Menurut analisis data Drone Emprit, isu klepon tidak Islami ini bisa gaduh bukan kepalang karena didorong sentimen persaingan Pilpres 2019 yang masih tersisa.

"Pendorongnya adalah residu Pilpres yang tidak kunjung hilang di publik. Orang sudah terpolarisasi," kata analis dan pendiri Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, kepada detikcom, Rabu (22/7/2020).

Terpecahnya masyarakat menjadi dua kelompok yang berhadap-hadapan (polarisasi) sudah terbentuk sejak Pilpres 2019. Meski begitu, model pembuatan isu gaduh seperti ini sudah ada sejak Pilkada DKI 2017, misalnya isu wayang kulit tidak sesuai ajaran Islam, atau yang lebih baru ada isu orang Islam piknik ke candi.

Kebetulan saja, sentimen yang ada di masyarakat adalah sentimen kadrun yang merujuk ke kelompok agama tertentu. Sentimen agama memudahkan tersulutnya kegaduhan dengan sangat emosional. Istilah 'kadrun' kerap kali menjadi olok-olok ke akun/orang yang punya kecenderungan keagamaan tertentu plus sikap politik tertentu. Di atas suasana itu, muncul isu klepon.

"Khusus yang klepon ini, memang sengaja untuk bikin kegaduhan dengan memanfaatkan sentimen itu," kata Fahmi.

Melalui penelusuran di media sosial, Fahmi melihat narasi isu klepon tidak Islami ini mencoba membenturkan isu agama dengan isu budaya. Meskipun pemicunya adalah isu buatan, namun orang yang terpicu bukan reaksi buatan melainkan reaksi yang alami. Masing-masing merasa harus membela kelompoknya.

"Kebanyakan, mereka yang sudah kemakan sentimen ini langsung menuduh kelompok yang lain tanpa memakai daya kritis, langsung menuduh 'kadrun'. Itu dilakukan terus menerus, tren-nya makin lama makin banyak," kata Fahmi.

Kenapa persaingan Pilpres 2019 muncul sekarang? Fahmi menilai ini ada hubungannya dengan persiapan kontestasi terdekat yakni Pilkada 2020. Terlepas dari tujuan politik itu, isu primordial memang mudah sekali menyulut kegaduhan di medsos.

"Narasi awal kan soal budaya dan agama. Itu menghubungkan dengan budaya, dengan Nusantara. Jadi yang dipakai adalah, supaya ini viral itu gampang sekali: sebar saja isu agama dan benturkan dengan budaya," kata Fahmi.

Asumsi dasarnya, klepon adalah produk budaya dan Islam adalah agama. Bila dua hal itu dibenturkan, maka emosi banyak orang akan terpicu, atau istilah medsosnya adalah 'triggered'.

Tonton video 'Klepon Ubi Ungu, Pas Dimakan Saat Sarapan!':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2 3