Deretan Konflik Negara Asia Tenggara dengan China Terkait Laut China Selatan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 21 Jul 2020 21:17 WIB
Laut China Selatan: Aksi China memburu sumber daya melanggar hukum, kata Menlu AS
Foto: BBC World/Deretan Konflik Negara Asia Tenggara dengan China Terkait Laut China Selatan
Jakarta -

Duta Besar China untuk Filipina Huang Xilian mengingatkan negara-negara Asia Tenggara tidak terpancing dengan upaya Amerika Serikat menyabotase stabilitas kawasan melalui intervensi dalam sengketa Laut China Selatan.

South China Morning Post menyebut Huang meminta agar negara Asia Tenggara menggunakan cara yang tepat untuk menyelesaikan konflik" dengan China ketimbang dimanfaatkan Amerika Serikat. Seperti diketahui, Laut China Selatan memanas lagi. Gara-garanya karena Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan China tidak berhak mengklaim wilayah di Laut China Selatan.

AS bahkan mengerahkan dua kapal induknya ke perairan Laut China Selatan pada 17 Juli lalu. Dua kapal induk AS itu, USS Nimitz dan USS Ronald Reagan, sebelumnya melakukan operasional dan latihan militer di perairan Laut China Selatan pada 4-6 Juli. Laut China Selatan memiliki potensi strategis dan menjadi rebutan karena sepertiga kapal di dunia melintasinya. Selain itu pada kawasan ini tersedia cadangan energi yang sangat besar.

Sejumlah negara di Asia Tenggara memiliki perairan yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan. Jadi tak mengherankan pula negara-negara di Asia Tenggara kerap terlibat konflik dengan China terkait Laut China Selatan. Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Vietnam, Indonesia menolak klaim China atas 90 persen wilayah Laut China Selatan.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyebut, posisi Indonesia menekankan hak Indonesia atas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Laut China Selatan sangat jelas dan konsisten. Hal ini sejalan dengan Hukum Laut Internasional 1982. Sikap Indonesia atas ZEE itu juga didukung oleh putusan Mahkamah Internasional pada tahun 2016. Mahkamah Internasional dalam keputusan yang dikeluarkan pada 12 Juli 2016, menolak klaim maritim China. China pun tidak menerima keputusan itu.

Berikut kisah konflik negara-negara Asia Tenggara dengan China terkait Laut China Selatan:

1. Vietnam


Vietnam mengklaim kedaulatan atas Kepulauan Paracel dan Spratly sejak abad ke-17 dan punya dokumen sejarah untuk membuktikannya. Pada Mei 2003 Kementerian Luar Negeri Vietnam pernah mengeluarkan deklarasi yang menegaskan klaim Vietnam atas Laut China Selatan.

Perdana Menteri Vietnam pada 2019 lalu pernah menyampaikan protes pada China. Kapal survei gas China dengan pengawalan bersenjata disebut telah melanggar teritori dan mengganggu aktivitas eksplorasi Vietnam.

2. Filipina

Filipina mengklaim kedaulatan di bagian timur laut Kepulauan Spratly, atau yang disebut Filipina sebagai Kalayaan, selain Scarborough Shoal. PAda 2012 lalu, Angkatan Laut Filipina menahan nelayan China di dekat Scarborough Shoal. Peristiwa ini memicu ketegangan di antara kedua negara

Filipina pun mengajukan gugatan untuk membatalkan sembilan garis putus China ke Mahkamah Internasional pada 2013. Garis-garis berbentuk huruf U ini berawal dari selatan daratan China dan berujung di kawasan Natuna, melintasi lautan di antara Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, dan Malaysia

Seperti yang dikutip dari VoA news, Mahkamah Internasional yang berbasis di Den Haag memutuskan Filipina memiliki kedaulatan eksklusif atas Laut Filipina Barat serta peta 9 garis putus China tidak sah secara hukum.

3. Indonesia

China mengklaim Laut Natuna masuk dalam wilayahnya. Hal ini selalu menimbulkan konflik dengan Indonesia. Terakhir terjadi pada Desember 2019 lalu. Saat itu sejumlah kapal asing penangkap ikan milik China diketahui memasuki Perairan Natuna, Kepulauan Riau.

4. Brunei Darussalam


Brunei mengklaim Louisa Reef, yang berada di landas kontinennya. Karena Louisa Reef bagian dari Kepulauan Spratly, struktur laut itu juga diklaim oleh China dan Vietnam.

5. Malaysia

Seperti yang dikutip dari VoA, Malaysia mengklaim sebagian Laut China Selatan di bagian utara Kalimantan, yang meliputi sedikitnya 12 struktur laut di Kepulauan Spratly. Kawasan ini termasuk Amboyna Cay dan Barque Canada Reef yang dikuasai oleh Vietnam, dan juga Commodore Reef dan Rizal Reef, yang dua-duanya dikuasai oleh Filipina.

PAda 2018 lalu, kapal penjaga pantai China menghabiskan 70% waktunya untuk berpatroli di perairan Laut China Selatan yang diklaim oleh Malaysia. Malaysia yang termasuk negara Asia Tenggara tidak berbuat banyak untuk mengusir kehadiran kapal China tersebut.

(nwy/pal)