Korban Tewas Akibat Banjir-Longsor di Kota Sorong Bertambah Jadi 5 Orang

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Selasa, 21 Jul 2020 00:27 WIB
Anak-anak bermain air saat banjir menggenangi Kelurahan Klasabi, Kota Sorong, Papua Barat, Jumat (17/7/2020). Sejumlah wilayah Kota Sorong mengalami banjir dan longsor akibat hujan dengan intensitas tinggi sejak Kamis (16/7/2020). Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan tiga orang meninggal  tertimbun longsor dan seorang meninggal karena sengatan listrik. ANTARA FOTO/Olha Mulalinda/pras.
Banjir di Kota Sorong, Papua Barat. (Foto: ANTARA FOTO/OLHA MULALINDA)
Jakarta -

Korban tewas akibat bencana banjir dan tanah longsor di Kota Sorong, Papua Barat bertambah. Korban tewas bertambah menjadi 5 orang, dan 4 orang lainnya mengalami luka-luka.

"Data terakhir per 19 Juli 2020, BPBD setempat mencatat korban meninggal dunia sebanyak 5 orang dan luka-luka 4 orang, sedangkan kerusakan rumah dan infrastruktur masih dalam proses pendataan," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam keterangannya, Senin (20/7/2020).

Banjir dan tanah longsor terjadi pada Kamis (16/7) lalu sekitar pukul 18.00 WIT. Bencana itu disebabkan intensitas curah hujan yang tinggi serta pasang air laut yang membuat debet air Sungai Remu meluap sehingga merendam rumah warga.

Curah hujan dengan intensitas tinggi menjadi salah satu pemicu banjir dan longsor di beberapa wilayah kota Sorong Provinsi Papua Barat pada hari Kamis, pukul 18.00 WIT (16/7). Tak hanya itu, pasang air laut juga menyebabkan debit air Sungai Remu meluap dan merendam rumah warga.

Lokasi terdampak banjir di Kota Sorong berada di sembilan distrik, yaitu Distrik Sorong Timur, Sorong Kota, Sorong Utara, Sorong Manoi, Sorong, Malaimsima, Klaurung, Maladumes, dan Sorong Kepulauan. Sementara, ada tujuh kelurahan yang terdampak, meliputi Kelurahan Klademak, Klakubik, Puncak Cendrawasih, Malamu, Doom Barat, Remu Selatan, dan Kofkerbu.

"Beberapa rumah terdampak berada di bantaran Sungai Remu dan lereng bukit, sehingga sangat berisiko untuk terdampak bencana banjir dan longsor. Sementara ini, masyarakat terdampak mengungsi secara mandiri ke kediaman keluarga atau tetangga terdekat," ujarnya.

Raditya mengatakan Pemerintah Daerah Kota Sorong masih melakukan upaya penanganan darurat pascabencana. BPBD Kota Sorong juga telah mengidentifikasi kebutuhan mendesak warga yang mengungsi, seperti kebutuhan dasar, alat pembersih rumah, dan alokasi anggaran operasional penanganan darurat.

Petugas gabungan dari BPBD Kota Sorong, SAR, TNI, Polri, SKPD, dan masyarakat sekitar terus melakukan upaya penanganan dampak bencana banjir dan longsor ini, termasuk penyelamatan dan evakuasi korban. BPBD Kota Sorong juga mendirikan tenda posko di kantor Wali Koto Sorong dan menyalurkan bantuan bagi korban terdampak bencana.

"Sementara itu, BNPB mendorong agar Pemda Kota Sorong untuk segera menetapkan status tanggap darurat bencana banjir dan longsor serta membentuk posko Penanganan Darurat Bencana," pungkasnya.

(azr/idn)