KPU Ungkap Web Lindungihakpilihmu Sempat Diretas, Kini Sudah Pulih

Yulida Medistiara - detikNews
Minggu, 19 Jul 2020 15:15 WIB
Komisioner KPU Viryan Aziz
Foto: Dwi Andayani/detikcom
Jakarta -

KPU mengungkap website https://www.lindungihakpilihmu.kpu.go.id awalnya sempat diretas sehingga tak bisa diakses pada hari launching Gerakan Klik Serentak pada 15 Juli. Upaya peretasan itu dilakukan sejak sebelum website itu di-launching 8 Juli, tetapi kini sudah dapat diakses kembali.

"Serangan yang terjadi pada saat hari launching yaitu Gerakan Klik Serentak direncanakan mulai pukul 10.00 WIB informasi yang kami terima kebetulan dalam 3 hari tersebut seluruh tim bekerja dan serangan terjadi mulai pada tanggal 8 dan, tapi secara serius dan terus menerus sejak pukul 02.00 WIB dini hari tanggal 15 Juli," kata Komisioner KPU Viryan Aziz, dalam diskusi bertajuk Keamanan Siber Teknologi Pilkada 2020, yang disiarkan di YouTube Perludem, Minggu (19/7/2020).

Viryan mengatakan serangan ke website tersebut semakin intens pada pagi harinya pukul 08.00 WIB, bahkan pada saat di-launching pukul 10.00 masih berlangsung sehingga website tersebut tidak bisa diakses. Kemudian ia menyebut pada pukul 13.40 ketika dicek kembali sudah mulai pulih.

"Ini terkait serangan yang terjadi kita ada tercatat 1,3 juta packet yang masuk ke kita dan sudah di drop sejak pukul 08.00 sampai pukul 13.00 . Itu sebab pada pukul 13.40 pada saat saya mengakses sangat mungkin sebelum itu sudah relatif pulih kembali," ungkapnya.

Kini website https://www.lindungihakpilihmu.kpu.go.id sudah dapat diakses kembali. Masyarakat bisa mengecek secara mandiri apakah sudah terdaftar dalam penyusunan data pemilih atau belum.

Viryan mengatakan serangan tersebut cukup intens tapi KPU berhasil melindungi database-nya karena data dan aplikasi itu berbeda server. Selain itu, KPU meminta stafnya mengganti password e-mail KPU secara rutin dan berhati-hati.

"Kami membedakan antara aplikasi termasuk server antara server (data) dengan server publikasi sehingga ketika terjadi serangan pun efektif kepada publikasi yang ada itu tidak berpengaruh kepada data dan ini praktik baik yang akan kita teruskan," ujarnya.

KPU juga akan mengaktifkan kembali Gugus Tugas Keamanan Siber yang dulu sempat ada pada Pemilu 2019 dengan menggandeng sejumlah pihak kementerian/lembaga, termasuk BSSN. KPU juga memasang sejumlah perangkat, seperti firewall, dan upaya lainnya untuk mencegah serangan siber.

Viryan mengatakan KPU tidak akan mentoleransi adanya upaya serangan siber terhadap website terkait kepemiluan. KPU menyebut saat ini kepercayaan publik dibutuhkan terhadap dukungan informasi teknologi dalam kepemiluan, apalagi KPU juga akan menerapkan e-rekapitulasi.

"Kita tidak toleransi hal-hal menyangkut pelayanan publik diganggu dan tentunya motifnya tidak baik untuk kepentingan membangun kepercayaan publik pilkada serentak 2020 terlebih kita sedang bersiap guna mengoptimalkan e-rekap," ujarnya.

Sebelumnya, KPU me-launching Gerakan Klik Serentak (GKS) dan Gerakan Coklit Serentak (GCS) dalam rangka dimulainya tahapan pemutakhiran data pemilih Pilkada 2020 yang dilaksanakan dari 15 Juli hingga 13 Agustus di 270 daerah. KPU mengajak masyarakat mengecek secara mandiri apakah sudah terdaftar dalam penyusunan data pemilih atau belum.

Arief menjelaskan masyarakat dapat mengecek data dirinya apakah sudah terdaftar menjadi pemilih atau belum. Pemilih dapat melihat data dirinya tersebut dengan mengakses secara daring pada laman https://www.lindungihakpilihmu.kpu.go.id.

Namun, konfirmasi ditetapkannya sebagai pemilih tetap melalui coklit oleh Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP) sesuai UU dan Peraturan KPU yang mengatur tentang pencocokan dan penelitian melalui PPDP. Arief mengatakan data pemilih itu akan dimasukkan ke dalam Daftar Pemilih Sementara (DPS), jika ada perbaikan nantinya akan dilakukan penetapan Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan hingga akhirnya ditetapkan menjadi Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Meski begitu, Arief mengatakan saat baru di-launching tadi malam, website https://www.lindungihakpilihmu.kpu.go.id sudah mendapatkan 'serangan' karena dinilai mendapat antusias yang banyak dari masyarakat. Namun, Arief meski mendapatkan serangan tetapi database KPU tetap aman, hanya menjadi lambat.

"Jadi data kita aman makanya penyebabnya akibatnya hanya melambatnya sistem kita, jadi lemot gitu," ujarnya.

Tonton video 'Sempat Diserang Hacker, KPU Pastikan Data Pemilih Tetap Aman':

(yld/imk)