Round-Up

Pangkal Persoalan Banjir Masamba Ditepis Bupati Bukan soal Buka Lahan

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 21:45 WIB
Foto udara kondisi Kota Masamba yang tertimbun lumpur akibat terjangan banjir bandang di Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Jumat (17/7/2020). ANTARA FOTO/Abriawan Abhe/wsj.
Kota Masamba yang tertimbun lumpur akibat terjangan banjir bandang. (Foto: ANTARA FOTO/ABRIAWAN ABHE)
Jakarta -

Santer beredar kabar banjir bandang di Masamba, Luwu Utara, yang merenggut puluhan nyawa dipicu pembukaan lahan. Bupati Luwu Utara (Lutra) Indah Putri Indriani menjelaskan duduk perkaranya.

Pandangan terjadinya longsor akibat pembukaan lahan di wilayah hulu tersebut salah satunya dipaparkan Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin Prof Dr Eng Ir Adi Maulana, ST, MPhil, dalam catatannya berjudul 'Duka untuk Masamba' seperti yang diterima detikcom, Rabu, 15 Juli 2020.

Guru besar Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin ini menjelaskan terdapat setidaknya tiga sungai besar dan beberapa sungai kecil yang mengalir memotong daerah Masamba dari utara ke selatan. Sungai-sungai ini terbentuk akibat patahan-patahan atau sesar sekitar Pliosen atau 2 juta tahun yang lalu.

Patahan-patahan ini terjadi akibat proses tektonik pembentukan Pulau Sulawesi, dan seiring waktu patahan-patahan tersebut membentuk aliran sungai.

"Di daerah hulu, proses pelapukan sangat intens terjadi. Hal ini dibuktikan dengan tebalnya soil atau tanah tutupan yang mencapai 5-7 km. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Unhas menemukan ketebalan soil bisa mencapai 8 meter di titik tertentu," jelasnya.

"Banyaknya aktivitas pembukaan lahan-lahan untuk perkebunan dan permukiman yang tidak terkontrol di wilayah pegunungan atau hulu sungai menyebabkan terjadinya proses erosi yang sangat signifikan, dan akibatnya terjadi proses sedimentasi pada sungai yang tinggi. Kondisi ini menyebabkan kondisi sungai secara umum terganggu," lanjutnya.

Atas pandangan tersebut, Bupati Luwu Utara (Lutra) Indah Putri Indriani tegas menepisnya.

"Berdasarkan laporan dari KPH (Kesatuan Pengelola Hutan) Sungai Rongkong dan Dinas Lingkungan Hidup itu memang ditemukan ada dua gunung yang ditemukan longsor," ujar Indah dalam keterangannya yang diterima detikcom, Jumat (17/7/2020).

"Gunung Lero kemudian materialnya itu turun ke Sungai Radda, kemudian Gunung Magandang itu yang materialnya ke Sungai Masamba," kata Indah. Gunung yang dimaksud ialah kawasan perbukitan di wilayah Lero dan Gunung Magandang. Longsor di wilayah tersebut menjadi sebab banjir di wilayah Kota Masamba dan kecamatan lainnya, khususnya Desa Radda.

Selanjutnya
Halaman
1 2