Jatim Juga Pernah Jadi Zona Hitam pada Zaman Flu Spanyol, Benarkah?

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 17:45 WIB
Report on the Influenza Epidemic in Netherlands-Indie 1918, dalam Mededeelingen van Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (MBGD) 1920 (Dok. koleksi Syefri Luwis)
'Report on the Influenza Epidemic in Netherlands-Indie 1918, dalam Mededeelingen van Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (MBGD) 1920' (Foto: dok. koleksi Syefri Luwis)

Dia menjelaskan, saat itu pemerintah kolonial hanya mendata korban di Pulau Jawa dan Madura. Padahal jumlah korban flu Spanyol di luar Jawa juga banyak.

"Dan itu cuma Jawa dan Madura. Belanda nggak ngambil data sama sekali di luar Jawa dan Madura. Padahal korban banyak. Ada data ditutupin standarlah," ujarnya.

Dia membandingkan kondisi Surabaya saat Corona ini dengan zaman flu Spanyol dulu. Dia mengatakan bahwa pemimpin Surabaya saat itu sampai tertekan karena jumlah korban wabah luar biasa banyak.

"Surabaya sama-sama gelap. Jadi Surabaya zaman dulu korbannya memang banyak. Termasuk yang paling banyak. Bahkan saat itu ada laporan Residen Surabaya ya, mungkin sekarang kayak Wali Kota Surabaya, Bu Risma itu. Residen Surabaya sampai bilang, korban di Surabaya itu sampai 1 juta orang. Saking stresnya dia baca yang meninggal. Tapi kan kata Kepala Burgerlijk Geneeskundige Dienst (BGD-Kemenkes pada zaman itu), nggak ada itu, cuma puluhan ribu. Dianggap melebih-lebihkan," tuturnya.

Lebih lanjut Syefri memaparkan kondisi Kota Surabaya saat itu ialah kota industri. Mirip seperti saat ini.

"Jumlahnya mungkin jauh lebih besar. Harus dipahami, karena dulu itu Surabaya itu kota industri. Sama seperti sekarang. Sekarang mungkin nggak sebanyak dulu. Karena sekarang ada akses untuk membaca. Jadi orang dulu nggak tahu," ungkapnya.

Sebelumnya, Doni Monardo mengingatkan bahwa flu Spanyol 1918 juga banyak merenggut nyawa. Jawa Timur pada saat itu kondisinya mirip seperti ketika dilanda pandemi Corona.

"Yang terbanyak pada waktu itu wilayah Nusantara, masih berupa kerajaan dan dikuasai Belanda, tahun 1918 belum jadi republik. Paling banyak korban di Madura. 23 persen populasi warga Madura meninggal dunia. 23 persen itu bukan dari yang terpapar, tapi dari populasi," kata Doni saat rakor bersama Gugus COVID-19 Jatim di Hotel Inna Simpang, Surabaya, Kamis (16/7/2020).

Saat itu, menurut Doni, ada 4,5 juta warga Indonesia yang meninggal akibat flu Spanyol. Kasus meninggal terbanyak ada di Jatim.

"Madura 23 persen populasi, kemudian Kediri 20 persen populasi, Surabaya 17,54 persen, Pasuruan 14,32 persen, lalu Madiun 7,31. Saat itu yang wafat mencapai 4,5 juta orang," terang Doni.

Belajar dari pagebluk 100 tahun lalu, Doni menjelaskan COVID-19 belum tentu ditemukan vaksin dan obatnya. Apalagi flu Spanyol saat itu hilang begitu saja.

"Mencermati kasus 100 tahun lalu, dan hari ini tentang COVID-19 yang kita tidak tahu apakah akan berhasil adanya vaksin dan obat. Karena flu Spanyol setelah terjadi hingga hari ini tidak ditemukan vaksinnya, hilang begitu saja," jelasnya.

Per Jumat (17/7) kasus positif COVID-19 di Jawa Timur masih tertinggi secara nasional, yakni berjumlah 17.829 kasus positif.


(rdp/dnu)