Jatim Juga Pernah Jadi Zona Hitam pada Zaman Flu Spanyol, Benarkah?

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 17:45 WIB
Report on the Influenza Epidemic in Netherlands-Indie 1918, dalam Mededeelingen van Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (MBGD) 1920 (Dok. koleksi Syefri Luwis)
'Report on the Influenza Epidemic in Netherlands-Indie 1918, dalam Mededeelingen van Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (MBGD) 1920' (Foto: dok. koleksi Syefri Luwis)
Jakarta -

Kepala Gugus Pusat Percepatan Penanganan COVID-19 Pusat Doni Monardo mengatakan saat flu Spanyol 100 tahun lalu, angka kematian juga tertinggi di Jawa Timur. Mirip dengan situasi saat Corona (COVID-19) sekarang. Bagaimana gambarannya?

Kondisi wabah di Jawa Timur ini pernah diteliti oleh alumnus Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (UI), Syefri Luwis. Dia juga menulis skripsi yang berjudul 'Pemberantasan Penyakit Pes di Malang, 1911-1916 (2008)'.

Dia juga membenarkan peringatan yang disampaikan oleh Doni Monardo soal flu Spanyol 100 tahun silam. Pada zaman itu, Jawa Timur memang memiliki tingkat kematian tertinggi. Data itu didapatkan dari dokumen bertajuk 'Report on the Influenza Epidemic in Netherlands-Indie 1918, dalam Mededeelingen van Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (MBGD) 1920'.

'Report on the Influenza Epidemic in Netherlands-Indie 1918, dalam Mededeelingen van Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (MBGD) 1920' (Dok. koleksi Syefri Luwis)'Report on the Influenza Epidemic in Netherlands-Indie 1918, dalam Mededeelingen van Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (MBGD) 1920' (Dok. koleksi Syefri Luwis)

Namun saat itu pemerintah Hindia Belanda hanya menggambarkan kondisi berdasarkan tingkat kematian, bukan jumlah kasus seperti Corona saat ini.

"Bukan jumlah kasus. Tingkat kematian. Berbeda konteks dengan sekarang, kalau sekarang jumlah kasus ya kalau hitam, kalau zaman dulu hitam itu tingkat kematian," kata Syefri saat dihubungi, Jumat (17/7).

"Itu artinya per 1.000, semakin gelap semakin banyak yang meninggal. Cuma sayangnya, Belanda hanya mengunci pada 1918 saja. Padahal pandemi itu sampai 1921 benar-benar resmi hilang," jelas Syefri menunjukkan dokumen peta wabah Flu Spanyol pada saat itu.

Selanjutnya
Halaman
1 2