Putusan Ultra Petita Penyerang Novel Baswedan Dinilai Belum Adil

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 17 Jul 2020 08:36 WIB
Dua orang anggota polisi aktif pelaku penyerangan kepada Novel Baswedan dibawa keluar dari Polda Metro Jaya. Keduanya hendak dipindahkan ke Bareskrim Polri.
Dua polisi yang menyerang Novel Baswedan dengan menggunakan air keras mengenakan baju tahanan warna oranye saat ditahan. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Dua polisi yang menyiramkan air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan divonis melebihi tuntutan jaksa, yaitu masing-masing hukuman penjara selama 2 tahun dan 1,5 tahun. Meski putusan itu 'ultra petita', dinilai masih belum memenuhi unsur keadilan di mata publik.

Ahli hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menyatakan penggunaan bahan berbahaya yaitu asam sulfat dalam perkara itu seharusnya menjadi pemberat dalam putusan hakim. Selain itu, Pasal 353 ayat 2 KUHP yang mencantumkan hukuman maksimal 7 tahun masih jauh dengan vonis yang dijatuhkan itu.

"Ini seharusnya menjadi faktor pemberat sebagaimana disebutkan dalam Pasal 356 KUHP (mengenai penggunaan bahan berbahaya) karena itu seharusnya paling tidak hukuman itu sekitar 5 tahun akan memenuhi rasa keadilan dalam masyarakat," ujar Abdul Fickar yang juga seorang dosen di Universitas Trisakti Jakarta itu dalam keterangannya, Jumat (17/7/2020).

Dia juga menilai putusan itu belum memiliki efek jera. Abdul Fickar merujuk pada tidak adanya hukuman tambahan seperti pencabutan hak sebagai anggota kepolisian.

"Putusan ini seharusnya menjadi momentum bagus jika memenuhi rasa keadilan dalam masyarakat dalam arti membersihkan oknum-oknum yang cenderung menyalahgunakan kedudukan dan jabatannya yang hingga kini terus berlangsung seperti halnya pada kasus Djoko Tjandra yang melibatkan beberapa oknum juga," kata Abdul Fickar.

Meski demikian, Abdul Fickar mengapresiasi putusan 'ultra petita' tersebut. Sebab, tuntutan jaksa pada dua terdakwa yaitu hanya 1 tahun penjara.

"Apresiasi pada majelis hakim yang berani berbeda dengan tuntutan jaksa. Ini artinya masing-masing subsistem dalam konteks Integrated Criminal Justice System punya kemandirian yang tidak boleh dicampuri, disandera oleh apa pun, termasuk subsistem penuntutan, bahkan atasannya seperti Ketua MA atau siapa pun, karena itu ia harus berpihak pada keyakinannya untuk memutuskan suatu perkara. Meskipun melebihi tuntutan jaksa, putusan yang ultra petita (melebihi permintaan) ini harus diapresiasi," kata Fickar.

Sebelumnya, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) pada Kamis, 16 Juli kemarin, majelis hakim menyatakan Rahmat Kadir dan Ronny Bugis bersalah melakukan penyiraman air keras ke Novel Baswedan. Rahmat Kadir divonis 2 tahun penjara, sedangkan Ronny Bugis divonis hakim 1 tahun 6 bulan penjara.

Vonis yang dijatuhkan hakim ini lebih berat dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menjatuhkan hukuman 1 tahun penjara untuk keduanya. Keduanya dinyatakan bersalah melanggar Pasal 353 ayat 2 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Tonton video 'Hakim: Tak Ada Unsur Penganiayaan Berat Dakwaan Primer Penyerang Novel':

(asp/dhn)