Suhu Rata-rata Global Makin Panas 5 Tahun ke Depan, Bagaimana di Indonesia?

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 15 Jul 2020 11:40 WIB
Suhu panas dan terik di Jakarta terhitung tembus 35 derajat celcius. Hal itu disebabkan posisi matahari dan minimnya awan.
Ilustrasi (Foto: Ari Saputra)

WMO mencatat perlambatan industri akibat pandemi virus Corona turut memberikan dampak kepada perubahan iklim. Namun Herizal menyebut peristiwa itu tentu bukanlah menjadi pengganti aksi untuk menjaga perubahan iklim global.

"WMO juga menekankan bahwa perlambatan industri dan ekonomi dampak COVID-19 bukanlah pengganti dari rencana aksi iklim yang berkelanjutan dan terkoordinasi secara global. Meskipun dampak COVID-19 berkontribusi pada penurunan emisi pada tingkat tertentu pada tahun ini, namun hal itu diperkirakan tidak akan signifikan pengaruhnya pada pengurangan konsentrasi atmosfer CO2 yang mendorong peningkatan suhu global, karena daur hidup CO2 yang sangat lama di atmosfer," katanya.

Sementara di Indonesia, BMKG menyebut 2019 menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah. Di mana terjadi peningkatan suhu sebanyak 0,84 derajat celcius di atas rata-rata iklim sepanjang tahun 1981-2000..

"Di Indonesia, Catatan Iklim BMKG tahun 2019 menunjukkan tahun 2019 merupakan tahun terpanas kedua setelah 2016 di Indonesia dengan peningkatan 0.84°C di atas rerata iklim 1981-2000, emisi gas rumah kaca (GRK) terukur di Stasiun GAW BMKG Kototabang terus meningkat mencapai 408,2 ppm meskipun masih relatif lebih rendah dari GRK global, jumlah kejadian bencana hidrometeorologi terus bertambah mencapai 3.362 kejadian," sebut Herizal.

Sedangkan khusus di Jakarta, berdasarkan penelitian dari BMKG sejak zaman Belanda, sekitar 150 tahun yang lalu, terjadi peningkatan suhu di Ibu Kota. Yaitu naik 1,6 derajat celcius dari tahun 1866-2012.

"Laju peningkatan ini cukup dapat dibandingkan dengan hasil analisis WMO, yaitu kenaikan suhu global sebesar 1,1°C terhadap zaman pra-industri (1850-1900) sebagai garis dasar periode acuan perubahan iklim global," tutur Herizal.

Herizal mengungkapkan peningkatan suhu bumi yang makin panas itu akan berdampak ke perubahan pola hujan dan meningkatkan cuaca ekstrem. Hal itu juga terjadi di Indonesia.

"Di Indonesia, secara umum perubahan pola hujan itu ditandai oleh peningkatan hujan di daerah di utara katulistiwa yang menyebabkan iklimnya cenderung semakin basah. Sementara di selatan khatulistiwa cenderung kering. Namun di banyak tempat ditemukan bukti bahwa hujan dalam kategori ekstrem terus meningkat kejadiannya," jelas Herizal.

Di Ibu Kota Jakarta, selama 130 tahun, BMKG mencatat rata-rata curah hujan relatif sama, namun frekuensi hujan ekstrem meningkat. Akibat perubahan suhu, intensitas hujan di Jakarta menjadi 14%.

"Sekitar 10% intensitas hujan tertinggi di Jakarta (di atas 100 mm per hari) telah meningkat 14% akibat penambahan suhu per 1 derajat celcius. Tren cuaca ekstrem juga meningkat, ditandai dengan peningkatan frekuensi dan skala bencana hidrometeorologi," tandasnya.

Redaksi mengubah judul berita ini pada 16 Juli 2020 pukul 06.35 WIB dari sebelumnya 'Suhu Bumi Makin Panas, Diprediksi Naik 1,5 Derajat Celcius Per Tahun' menjadi 'Suhu Rata-rata Global Makin Panas 5 Tahun ke Depan, Bagaimana di Indonesia? Pengubahan judul dilakukan atas koreksi dari narasumber. Redaksi memohon maaf atas kesalahan tersebut.


(lir/lir)