Data Ikappi: 1.053 Pedagang Positif Corona, DKI Jakarta Masih Tertinggi

Eva Safitri - detikNews
Rabu, 15 Jul 2020 01:59 WIB
Pasar Modern di Berbagai Daerah
Ilustrasi pasar (Foto: detikcom)
Jakarta -

Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP Ikappi) mencatat ada 1.053 pedagang di pasar tradisional positif virus Corona (COVID-19). Data ini dihimpun terakhir pada 13 Juli 2020.

"Merilis data terbaru pedagang teridentifikasi COVID-19 mencapai 1.053 positif tersebar di 190 pasar, di 80 kabupaten/kota dan 26 provinsi," kata Ketua Bidang Infokom DPP Ikappi Reynaldi Sarijowan dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2020).

Ikappi mengatakan terjadi penambahan kasus yang cukup tinggi dalam satu minggu terakhir ini. Penambahan tertinggi berada di Provinsi Papua, DKI Jakarta, dan Jawa Timur.

"Ada yang unik pada data terbaru. Kami mendapatkan penambahan kasus yang cukup tinggi dalam 1 minggu terakhir. Kami lihat penambahan itu di wilayah-wilayah yang pemerintah daerahnya masif dalam melakukan rapid test dan swab yang di pasar tradisional. Ada beberapa provinsi baru yang masuknya jumlah kasus cukup tinggi, yaitu Papua, DKI masih menjadi provinsi tertinggi disusul Jawa Timur," ujarnya.

Ikappi meminta pemerintah daerah melakukan edukasi bahaya COVID-19 secara masif. Tentunya dengan melibatkan seluruh pedagang dalam mengambil kebijakan terkait protokol kesehatan di pasar.

"Ikappi mendorong agar penguatan terhadap protokol kesehatan di pasar dan edukasi yang harus kita lakukan secara bersama-sama kepada pedagang menjadi hal utama untuk dilakukan. Hal kedua ialah mendorong keterlibatan pedagang dalam proses kebijakan yang diambil atau protokol kesehatan yang dilakukan di pasar," ujar Reynaldi.

Selain itu, Ikappi mendorong agar dipasang sekat plastik di setiap kios di pasar. Hal itu guna menghindari kontak dekat antara pedagang dan pembeli.

"Catatan lainnya ialah kami mendorong seluruh pasar tradisional di Indonesia menggunakan sekat plastik untuk menghindari komunikasi langsung antara pedagang dan pembeli. Ini yang paling efektif dibanding kebijakan ganjil-genap atau kebijakan pembatasan jam operasional. Karena justru pembatasan jam operasional dapat meningkatkan penyebaran karena akan ada penumpukan di jam-jam tersebut," jelas Reynaldi.

(eva/eva)