Serahkan Diri, Pelindung Anak Tersangka Pemerkosa ABG di Lampung Ditahan

Jabbar Ramdhani - detikNews
Senin, 13 Jul 2020 20:29 WIB
Polda Lampung memeriksa DA, pekerja P2TP2A yang jadi tersangka dugaan kekerasan seksual terhadap korban perkosaan (dok. Polda Lampung)
Polda Lampung memeriksa DA, pekerja P2TP2A yang jadi tersangka dugaan kekerasan seksual terhadap korban perkosaan. (dok. Polda Lampung)
Jakarta -

Pekerja Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur berinisial DA menyerahkan diri kepada pihak Polda Lampung. DA telah ditetapkan sebagai tersangka kasus kekerasan seksual terhadap gadis yang merupakan korban pemerkosaan.

"Tidak sampai sepekan, Polda Lampung dapat mengungkap kasus kekerasan seksual terhadap anak. Dengan adanya panggilan yang dilayangkan ke tempat atau lingkungan pelaku di Lampung Timur, dan juga dengan kerja sama dari tersangka DA untuk menyerahkan diri pada Jumat (10/7) malam," kata Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad saat dihubungi, Senin (13/7/2020).

"Dan tanggal 11 dilakukan penahanan agar tersangka tak melarikan diri, mengulangi perbuatannya, dan menghilangkan barang bukti sebagaimana diatur KUHAP," tambahnya.

Dia mengatakan saat ini tersangka DA diperiksa secara intensif terkait laporan dugaan kekerasan seksual terhadap korban. Polda Lampung menangani kasus secara hati-hati karena korban masih di bawah umur.

"Kami menghargai hak-hak korban, privasi korban," ujarnya.

Pandra mengatakan pihaknya saat ini masih fokus terhadap penanganan kasus sesuai dengan laporan yang disampaikan pihak korban. Namun, tidak menutup kemungkinan pihak kepolisian akan mendalami kasus lain jika ditemukannya bukti baru.

"Ini yang sedang kita dalami dulu. Yang jelas apa yang dilaporkan, pada tanggal 28 Juni itu, dia mengaku tersangka ada di rumah korban. Kalau dia berkali-kali berbuat macam-macam, kita harus bertahap dulu, apa yang dilaporkan korban. Kita harus bertahap dulu, karena korban ini masih di bawah umur. Kalau ada bukti baru, tentu Polda Lampung akan mendalami," ungkapnya.

Dalam kasus ini, DA disangkakan Pasal 81 UU Nomor 23 Tahun 2014 dan UU Nomor 17 Tahun 2016. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.

Peristiwa ini berawal saat DA dilaporkan ke polisi karena diduga memperkosa N yang masih pelajar. Pelaku dengan inisial DA itu diduga memperkosa korban pada saat menjalani trauma healing. Korban ditangani P2TP2A Lampung Timur karena menjadi korban pencabulan oleh sang paman pada Januari 2020. Namun, saat melakukan konseling itu, korban diduga diperkosa oleh DA.

Kasus ini dikecam keras banyak pihak dan diminta untuk diusut tuntas. Bahkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA) Bintang Puspayoga menilai pelaku bisa dikenai pemberatan hukuman berupa hukum kebiri.

(jbr/aud)