Tolak Reklamasi Ancol, Forum Komunikasi Nelayan Jakarta Bicara Dampaknya

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Minggu, 12 Jul 2020 18:25 WIB
Ketua Forum Komunikasi Nelayan Jakarta, Tahir.
Ketua Forum Komunikasi Nelayan Jakarta Tahir (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta -

Nelayan Teluk Jakarta menegaskan menolak reklamasi kawasan Ancol karena diyakini akan berdampak terhadap kerusakan lingkungan. Nelayan yang tergabung dalam Forum Komunikasi Nelayan Jakarta menyebut reklamasi kawasan Ancol akan membunuh penghidupan nelayan.

"Tidak masuk di akal jika urukan hasil galian dari 13 anak sungai dan waduk untuk menguruk seluas 155 hektare (35 hektare dan 120 hektare) tanpa memakai urukan pasir dari daerah-daerah lain. Hal ini akan berdampak terhadap lingkungan," kata Ketua Forum Komunikasi Nelayan Jakarta Tahir dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Minggu (12/7/2020).

Tahir pun mempertanyakan kapan proses pengurukan tanah sebesar 155 hektare ini selesai dilakukan. Sebab, kata Tahir, lahan Ancol seluas 20 hektare yang saat ini ada saja memakan waktu puluhan tahun sampai padat.

"Timbul sebuah pertanyaan, butuh waktu berapa puluh tahun untuk menguruk itu? Sementara, 20 hektare saja yang sudah ada memakan waktu puluhan tahun, sampai pada tingkat pemadatan dan pengeringan. Jadi sangat mustahil jika pengurukan pesisir seluas 155 hektare semuanya dari galian kali dan waduk yang ada di DKI," jelasnya.

Kemudian Tahir kembali mengingat saat reklamasi Ancol sebelumnya. Dia mengaku menyaksikan ikan-ikan di pesisir Ancol yang mati. Karena itulah ia tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi akibat Anies menerbitkan izin reklamasi Ancol.

"Kita tidak pernah lupa akibat pengurukan-pengurukan yang dilakukan reklamasi pada waktu lalu mematikan jutaan ikan di pesisir Ancol. Sampai hari ini tidak ada yang bertanggung jawab atas kematian ikan dan pencemaran lingkungan pada saat itu," sesal Tahir.

"Kami tidak ingin hal itu terulang kembali dan tidak tertutup kemungkinan jika pesisir Ancol diuruk dengan galian-galian yang ada akan terjadi kembali kematian ikan dan tercemarnya Teluk Jakarta," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2