PAN soal Diksi New Normal Diganti: Seolah-olah Sudah Normal

Farih Maulana Sidik - detikNews
Minggu, 12 Jul 2020 08:15 WIB
Yandri Susanto (Zhacky/detikcom)
Foto: Yandri Susanto (Zhacky/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah mengganti istilah 'new normal' menjadi 'adaptasi kebiasaan baru'. Ketua DPP PAN, Yandri Susanto menyebut penggunaan istilah 'new normal' banyak masyarakat yang menganggap kondisi telah normal seperti sebelum ada Corona.

"New Normal itu direspon atau diterjemahkan oleh masyarakat seolah-olah sudah normal kembali seperti sediakala sebelum ada COVID. Artinya masyarakat sudah tidak peduli dengan protokol kesehatan atau bahaya yang mengancam terpaparnya Corona itu sendiri," kata Ketua DPP PAN, Yandri Susanto kepada wartawan, Sabtu (11/7/2020).

Dia menuturkan diksi 'new normal' telah diterjemahkan salah oleh masyarakat terlihat dari masyarakat yang mulai tidak tertib menjalankan imbauan pemerintah terkait protokol kesehatan. Hal itu yang membuat penanganan Corona di Tanah Air kini semakin terasa rumit.

"Saya survei kecil-kecilan anggapan mereka sudah tidak ada lagi persoalan dengan Corona dan itu sangat disayangkan kalau pemahamannya seperti itu. Artinya kita memutus mata rantai Corona semakin rumit dan sulit," ujar Yandri.

Dia mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dalam berkomunikasi dengan masyarakat, termasuk dalam memilih kata-kata. Menurutnya, penggunaan kata yang tepat bukan saja untuk istilah 'new normal'. Melainkan juga dalam berkomunikasi soal bantuan-bantuan sosial bagi masyarakat.

"Hati-hati cara berkomunikasi pemerintah kepada rakyatnya apalagi memakai bahasa asing," katanya.

"Misalkan komunikasi tentang bantuan sosial, itu juga harus hati-hati yang dipahami masyarakat semua masyarakat terdampak itu mendapatkan bantuan, BLT, sembako, sementara tidak semua tidak mendapatkan bantuan," sambungnya.

Tonton video 'Panduan Beraktivitas di Ruang Publik Era New Normal':

Selanjutnya
Halaman
1 2