Anggap Inkonstitusional, Tommy Soeharto Bubarkan Munaslub Berkarya

Ashri Fathan - detikNews
Sabtu, 11 Jul 2020 15:22 WIB
Tommy Soeharto
Foto: Tommy Soeharto saat bubarkan Munaslub Berkarya. (Ashri Fathan/detikcom).
Jakarta -

Meski telah mendapat ancaman dari Ketum Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), Presidium Penyelamat Partai Berkarya tetap menggelar musyawarah nasional luar biasa (Munaslub). Alhasil, acara dibubarkan langsung oleh Tommy.

Munaslub Berkarya digelar di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (11/7/2020). Sejak pagi sudah terlihat sejumlah kader partai, namun keberadaan panitia Munaslub tidak jelas.

Lalu pada siang hari, Tommy datang ke lokasi acara. Ia didampingi oleh Sekjen Berkarya, Priyo Budi Santoso dan sejumlah petinggi partai.

Tommy bersama para simpatisannya masuk ke audiotorium hotel yang rencananya akan menjadi tempat digelarnya munaslub. Meja-meja sudah disusun dengan rapi, hanya saja kader-kader yang hadir belum terlihat menempati jajaran tempat duduk.

Maju ke depan bersama sejumlah petinggi Berkarya, Tommy lalu meminta agar kader yang hadir membubarkan diri. Ia yang hadir bersama sejumlah Ketua DPW Berkarya meminta peserta Munaslub untuk keluar dari lokasi acara.

"Masih ada para pesertanya (Munaslub) yang hadir di hotel ini. Hari ini mereka harus keluar dari hotel ini," kata Tommy di lokasi.

Meski begitu, Tommy mengajak para kadernya untuk mengedepankan persuasi kepada pihak-pihak yang ingin melakukan munaslub. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para pimpinan partai yang terus memberikan dukungan kepada DPP.

"Kita harus mengedepankan persuasi atau hal yang baik, tidak anarkis, dan jaga kebaikan citra partai di mana pun, khususnya di hotel ini," sebut Tommy.

"Ini ada beberapa DPW yang komit juga dengan DPP, saya ucapkan terima kasih atas kehadirannya. Kemarin selesai Rapimnas, 31 DPW hadir dan mendukung penuh secara aklamasi," lanjutnya.

Sementara itu Sekjen Berkarya Priyo Budi Santoso menyatakan munaslub yang digelar Presidium Penyelamat Partai merupakan perbuatan ilegal. Para inisiatornya pun dipastikan dipecat dari partai.

"Dalam rapat keputusan yang telah dilakukan oleh DPP, dalam rapat plenonya, apa yang menamakan dirinya Presidium Penyelamat Partai itu adalah ilegal, inkonstitusional dan melawan partai. Kemudian rapat memutuskan mereka diberhentikan dari pengurus maupun dari keanggotaan Partai Berkarya," jelas Priyo dalam kesempatan yang sama.

Priyo menegaskan para pimpinan Berkarya daerah dan organisasi partai merasa terusik dengan Presidium Penyelamat Partai itu. Oleh karenanya mereka melakukan rapimnas dan menuntut agar kelompok tersebut dipecat dari Berkarya.

"Ada sekitar 15 organ-organ partai yang merasa terusik dengan oknum-oknum itu yang kami kira sangat sayangkan mereka agak menjual ini untuk apa kami nggak tahu. Mereka tidak rela kepemimpinan Pak Tommy Soeharto ini diganggu dengan cara yang tidak bermartabat," tutur Priyo.

Sebelumnya, Wakil Ketua Presidium Penyelamat Partai Berkarya Badaruddin Andi Picunang mengatakan munaslub dijadwalkan dilakukan pada 11 Juli 2020. Andi menyebut munaslub dilakukan untuk melakukan evaluasi, perubahan, dan pengembangan partai. Andi menuturkan, meski permintaan evaluasi telah disampaikan, selama ini Partai Berkarya belum pernah melakukannya.

"Kami adalah presidium panitia dari pelaksanaan munaslub yang nantinya insyaallah akan dilaksanakan minggu depan tanggal 11 Juli 2020," ujar Andi dalam konferensi persnya yang disiarkan melalui Zoom, Kamis (2/7).

Badaruddin Andi Picunang sendiri tak tampak di lokasi Munaslub. Ia juga tidak merespons saat dihubungi.

Tonton juga 'Tommy Soeharto Hentikan Munaslub Partai Berkarya Karena Dianggap Ilegal':

[Gambas:Video 20detik]

(elz/ear)