Pemerintah: Diksi New Normal Salah, Kami Ubah Jadi Adaptasi Kebiasaan Baru

Zunita Putri - detikNews
Jumat, 10 Jul 2020 20:55 WIB
Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto (dok. BNPB)
Foto: Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto (dok. BNPB)
Jakarta -

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona (COVID-19), dr Achmad Yurianto mengungkapkan ada diksi yang salah di kata 'new normal'. Dia menilai diksi yang benar adalah adaptasi kebiasaan baru.

"Diksi new normal itu sebenarnya di awal diksi itu segera kita ubah, waktu social distancing itu diksi yang salah, dikritik langsung kita ubah, new normal itu diksi yang salah, kemudian kita ubah adaptasi kebiasaan baru tapi echo-nya nggak pernah berhenti, bahkan di-amplify ke mana-mana, gaung tentang new normal itu ke mana-mana," ujar Yuri di launching buku 'Menghadang Corona' di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2020).

Kenapa pemerintah mengganti kata new normal? Karena, kata Yuri, jika tagline new normal dipakai maka masyarakat akan fokus ke kata 'normal' nya saja. Tidak pada 'new' atau pembaruanya.

"Kemudian yang dikedepankan bukan new nya malah normalnya. New-nya itu jalan nggak tahu echo-nya, jadi belakangan, tok normal, ini yang nggak... Padahal ini sudah kita perbaiki, dengan adaptasi kebiasaan baru," jelasnya.

Dia juga mengungkapkan saat ini pemerintah tidak bicara tentang aturan karena dikhawatirkan masyarakat jenuh akan peraturan. Yuri menyarankan masyarakat patuhi saja aturan yang ada terkait Corona.

"Kami juga menyarankan sekarang ini mungkin kami akan bicara ke depan, tidak lagi dalam berbicara aturan yang dibuat lagi. Jalankan saja, kalau banyak aturan yang dibuat makin pusing kita, makin pusing, jalankan saja," kata Yuri.

Tonton video 'Panduan Beraktivitas di Ruang Publik Era New Normal':

(zap/dkp)