Secapa AD Jadi Klaster Corona, Epidemiolog UI Bicara Risiko Pelonggaran

Farih Maulana Sidik - detikNews
Jumat, 10 Jul 2020 07:42 WIB
Epidemiolog UI Pandu Riono (Dok web situs FKM UI)
Foto: Epidemiolog UI Pandu Riono (Dok web situs FKM UI)
Jakarta -

Sekolah Calon Perwira (Secapa) TNI AD di Bandung, Jawa Barat, menjadi klaster baru penularan virus Corona (COVID-19). Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono menyebut munculnya klaster baru Corona sebagai risiko dari pelonggaran dari pembatasan yang sebelumnya dilakukan.

"Itu risiko dari pelonggaran, akan ada klaster-klaster baru yang tidak terpikirkan. Ketika Singapura juga kayak gitu, tiba-tiba ada klaster baru di rumah susun pekerja migran, gitu kan. Polanya hampir sama itu. Jadi begitu dilonggarkan akan timbul klaster baru," kata Pandu kepada wartawan, Kamis (9/7/2020).

Pandu menilai Secapa di Bandung perlu diisolasi. Kalau tidak, sebut dia, penularan bisa terjadi kepada masyarakat.

"Secapa harus lockdown lokal, gitu lah ya. Jadi supaya tidak ada kontak dari orang-orang Secapa keluar, kalau nggak kan dia jadi sumber penularan ke masyarakat. Jadi diisolasi gitu, itu lebih mudah," jelasnya.

Menurut Pandu, semakin banyak masyarakat yang dilaporkan terkonfirmasi positif Corona sangat bagus untuk mempercepat pelacakan dan melakukan isolasi. Namun, dia tetap mengingatkan masyarakat akan pentingnya menerapkan protokol kesehatan.

"Jadi begini, kunci untuk jangka panjang itu kan memang begitu, testing, melakukan lacak kasus, terus melakukan isolasi mereka yang positif. Yang menjadi masalah yang nggak ketahuan, OTG kan itu terus menularkan, itu berbahaya. Dengan banyak testing begini, pasti negara-negara yang testing-nya banyak itu kasusnya cepat turun," sebut Pandu.

Diketahui, total ada 1.262 orang positif Corona di klaster Secapa AD. Ada 17 orang dirawat di RS Dustira, Cimahi, sementara 1.245 orang dikarantina di lokasi Secapa.

"Seluruh komplek pendidikan sekolah calon perwira TNI AD Bandung kita lakukan isolasi, kita lakukan karantina dan kemudian kita larang untuk adanya pergerakan orang baik masuk ke dalam komplek atau keluar komplek," kata Yuri.

(fas/zak)