Sidang Kasus Suap Wahyu Setiawan

Sekretaris KPU Papua Barat Ungkap Pemberian Rp 500 Juta ke Wahyu Setiawan

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 19:32 WIB
Persidangan kasus suap yang menjerat Wahyu Setiawan
Persidangan kasus suap yang menjerat Wahyu Setiawan (Ahmad Bil Wahid/detikcom)
Jakarta -

Sekretaris KPU Papua Barat Rossa Muhammad Thamrin Payopo mengakui pernah mengirim uang Rp 500 juta kepada mantan komisioner KPU RI Wahyu Setiawan. Uang itu terkait proses seleksi komisioner KPU Papua Barat periode 2020-2025.

Hal itu diungkapkan Rossa saat menjadi saksi dalam sidang dengan terdakwa Wahyu Setiawan. Rossa memberikan kesaksian lewat sambungan video yang terhubung ke PN Tipikor Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raja, Jakpus, Kamis (9/7/2020).

"(Jumlahnya) Rp 500 juta," kata Rossa saat memberikan kesaksian.

Rossa mengatakan uang itu ditransfer ke rekening BCA atas nama Ika Indrayani. Saat memberi tahu Wahyu, Rossa sempat berpesan soal putra daerah Papua Barat dalam seleksi komisioner KPU.

"7 Januari ditransfer ke rekening Ika. Saya laporkan ke Pak Wahyu, saya bilang sudah transfer. Beliau bilang belum. Lalu saya balas lagi, tiga orang asli Papua harus masuk. Kalau 2 banding 3 bisa kacau. Lalu beliau balas 'sip' ke saya," ungkapnya.

Awalnya Rossa ditanyai soal siapa yang ingin minta bantuan Wahyu untuk meloloskan putra daerah Papua Barat sebagai komisioner KPU. Rossa menyebut tak ada siapa pun yang menginginkan itu.

"Tidak ada keinginan dari siapa pun," kata Rossa.

Ketika itu, kata Rossa, sedang terjadi masalah SARA di Papua, sehingga saat itu masyarakat Papua ingin putra daerah mereka dipilih.

Rossa menyebut juga pernah bertemu dengan Wahyu di Jakarta dan membahas proses seleksi komisioner KPU Papua Barat. Dalam pertemuan itu, dia menyebut sejumlah nama putra daerah Papua Barat yang ikut seleksi. Wahyu pun memberikan sinyal akan memberikan bantuan dalam seleksi itu.

"Apa tanggapan Pak Wahyu?" tanya jaksa.

"Kita usahakan semuanya lolos," kata Rossa menirukan jawaban Wahyu.

Dalam perkembangannya, kata Rossa, Wahyu pernah mengatakan ada yang tidak disenangi dalam Pilkada Papua Barat. Dia pun menyampaikan itu kepada Gubernur.

"Apalagi, dalam perkembangannya, Pak Wahyu pernah bilang bahwa dalam pilkada ini ada yang tidak disenangi. Saya jadi waswas bagi saya, wah ini Pak Wahyu akan perjuangkan all out. Jadi saya menghadap Pak gubernur," ungkapnya.

Setelah pertemuan dengan Gubernur, Rossa mendapat telepon dari seseorang yang diketahuinya sebagai ajudan Gubernur dan mengajak bertemu di sekitar kediaman pribadi Gubernur. Di lokasi itu, Rossa ditemui seseorang dan diberi uang Rp 500 juta.

"Langsung dikasih itu (Rp 500 juta) untuknya. Yang saya tahu untuk segera dikirim ke Pak Wahyu," kata dia.

Dalam perkara ini, mantan komisioner KPU Wahyu Setiawan didakwa jaksa KPK menerima gratifikasi. Wahyu didakwa menerima gratifikasi sebesar Rp 500 juta dari Sekretaris KPU Provinsi Papua Barat Rosa M Thamrin Payapo.

"Terdakwa selaku anggota Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) periode 2017-2022, yang menerima hadiah atau janji, berupa uang sebesar Rp 500 juta dari Rosa Muhammad Thamrin Payapo yang diterima terdakwa I melalui transfer pada rekening bank, padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya," ungkap jaksa KPK Takdir Suhan di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (28/5/2020).

Jaksa mengatakan gratifikasi ini diberikan berkaitan dengan proses seleksi calon anggota KPUD Provinsi Papua Barat periode 2020-2025. Dengan harapan, Wahyu selaku komisioner KPU RI dapat memilih anggota KPUD Papua Barat yang asli orang Papua.

(abw/dhn)