Sidang Suap Wahyu Setiawan

Saksi Sebut Hasto Kristiyanto Tahu Caleg PDIP Diminta Mundur demi Harun Masiku

Ahmad Bil Wahid - detikNews
Kamis, 02 Jul 2020 16:16 WIB
sidang wahyu setiawan
Suasana persidangan kasus suap yang menjerat mantan komisioner KPU Wahyu Setiawan (Ahmad Bil Wahid/detikcom)
Jakarta -

Pengacara PDIP Donny Tri Istiqomah mengakui pernah menyuruh anggota PDIP Saeful Bahri bertemu dengan anggota DPR dari F-PDIP Riezky Aprilia di Singapura agar Riezky mundur dari DPR RI digantikan Harun Masiku. Donny menyebut upaya meminta Riezky mundur diketahui oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Hal itu disampaikan Donny saat bersaksi dalam perkara suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI. Dia bersaksi lewat sambungan video yang terhubung ke PN Tipikor Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020).

"Inisiatif Saudara atau ada perintah lain untuk menyuruh Pak Saeful ini?" tanya jaksa KPK pada Donny di persidangan.

"Inisiatif saya, saya minta beliau menemui Bu Riezky untuk mencari titik temu karena dalam pemikiran saya berdebat terus dengan KPU," jawab Donny.

Donny mengungkapkan Saeful mulai ikut membantu pekerjaan teknis tim hukum PDIP sejak Desember 2019. Pekerjaan teknis itu, kata Donny, juga diketahui Hasto.

"Teknis itu diketahui sebenarnya oleh beberapa, termasuk Pak Sekjen. Tapi tidak ada respons, Pak Sekjen hanya mengetahui teknis nanti Pak Sekjen akan membantu. Teknis itu mengantar surat, bertemu dengan komisioner, juga membuka pintu agar tim hukum diberi kesempatan untuk mempresentasikan ilmu dan langkah hukumnya di depan komisioner," ungkapnya.

Jaksa lalu menanyakan apakah ada pihak yang menyuruhnya meminta Riezky mundur. Donny pun menjawab langkah itu inisiatif pribadinya dan tidak disetujui Hasto sebagai Sekjen PDIP. Sementara itu, Riezky saat itu berstatus sebagai caleg PDIP terpilih, yang pada akhirnya dirinya resmi menjadi anggota DPR terpilih dari PDIP.

"Inisiatif saya, karena dari tim hukum, saya menemukan bahwa keputusan Mahkamah Agung ini agak sulit karena KPU memiliki pemikiran konsep sendiri sehingga saya mencoba untuk bertemu Ibu Riezky meminta mengundurkan diri. Sayangnya, Bapak Sekjen saat itu tidak setuju dengan saya karena dia anggap mungkin melanggar hukum," ucap Donny.

Jaksa juga mengklarifikasi penerimaan uang Rp 100 juta oleh Donny dari Harun Masiku. Menurut Donny, uang itu diberikan Harun karena telah mengurusi fatwa Mahkamah Agung tentang pergantian anggota DPR.

"Saudara diberi uang Rp 100 juta setelah ada putusan Mahkamah Agung. Apakah sebelumnya tidak ada pembicaraan membahas sesuatu sehingga pada akhirnya Pak Harun Masiku memberi uang kepada Saudara Rp 100 juta itu?" tanya jaksa.

"Tidak ada, Pak Harun langsung kasih uang, 'Mas, terima kasih ya, Mas, sudah uji materi di Mahkamah Agung'. Terus saya dikasih uang," jawab Donny.

Sebelumnya, kader PDIP Saeful Bahri mengakui pernah menemui anggota DPR Riezky Aprilia di Singapura untuk membahas pergantian antarwaktu (PAW). Saeful mengaku menawarkan kompensasi Rp 50 ribu per suara kepada Riezky, yang merupakan anggota DPR dari Fraksi PDIP, supaya mau di-PAW dengan Harun Masiku.

Dia menyebut hasil pertemuan dengan Riezky itu sedianya akan disampaikan ke Harun Masiku. Riezky juga ditawari jabatan lain jika menerima suaranya dihargai Rp 50 per suara.

Saat itu, Riezky menolak tawaran tersebut. Saeful lalu kembali ke Indonesia dan melaporkan hasil pertemuan ke Donny Tri Istiqomah yang memerintahkannya ke Singapura.

Dalam perkara ini, eks komisioner KPU Wahyu Setiawan didakwa menerima suap sebesar SGD 57.350 atau setara Rp 600 juta dari eks caleg PDIP Harun Masiku melalui kader PDIP Saeful Bahri. Wahyu juga didakwa bersama orang kepercayaannya yang juga anggota PDIP, Agustiani Tio Fredelina.

Uang diterima Wahyu selaku anggota KPU periode 2017-2019 melalui Agustiani Tio Fridelina, yang merupakan orang kepercayaan Wahyu. Uang itu diberikan agar Wahyu selaku komisioner KPU menyetujui permohonan PAW DPR yang diajukan PDIP untuk mengganti Riezky Aprilia dengan Harun Masiku.

(abw/dhn)