PPP: Kemarahan Jokowi Harus Jadi Pelecut Semangat Bagi Menteri

Tim Detikcom - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 18:28 WIB
Wasekjen PPP Achmad Baidowi
Foto: Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Zhacky/detikcom)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyentil menterinya terkait sanse of crisis dalam masa pandemi virus Corona (COVID-19). Menanggapi hal itu, PPP menilai sistem kerja work from home (WFH) memang tidak memiliki standar yang jelas, namun menurutnya para menteri harus tahu skala prioritas.

"Kalau boleh menilai memang WFH itu standarnya tidak terukur, namanya saja WFH pasti banyak yang terbengkalai. Paling tidak, dalam WFH skala prioritas diutamakan. Kaitan dengan itu, maka sejumlah target banyak yang meleset sehingga munculah kekecewaan dari presiden," kata Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Awiek), kepada wartawan, Kamis (9/7/2020).

Awiek menilai pantas saja jika presiden mengeluarkan pernyataan seperti itu. Menurutnya, hal itu karena Jokowi tidak merasakan dampak kerja dari WFH menterinya.

Kemarahan Jokowi, kata Awiek, harus dijadikan pelecut semangat bagi para menterinya untuk giat bekerja.

"Sebabnya, WFH seperti tidak berdampak pada kebijakan di tengah pandemi COVID. Maka bahasa seperti cuti harus disampaikan presiden. Kemarahan presiden harus dimaknai sebagai pelecut semangat bagi para menteri untuk bekerja lebih maksimal dan mengambil terobosan luar biasa," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Presiden Jokowi kembali menyentil kinerja para menterinya. Jokowi menyinggung sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH) yang dilakukan selama ini justru tampak seperti cuti.

"Saya minta kita memiliki sense yang sama. Sense of crisis yang sama. Jangan sampai 3 bulan yang lalu kita menyampaikan bekerja dari rumah, work form home. Yang saya lihat ini kayak cuti malahan. Padahal pada kondisi krisis kita harusnya kerja lebih keras lagi," kata Jokowi, dalam rapat terbatas seperti diunggah dalam kanal YouTube Sekretariat Presiden, seperti dilihat detikcom, Kamis (9/7).

(eva/elz)