Round-Up

3 Catatan Kritis soal Rapid Test yang Dianggap Malah Jadi Bisnis

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 07:16 WIB
Satu orang reaktif hasil rapid test UTBK-SBMPTN UPI
Ilustrasi (Foto: Siti Fatimah)
Jakarta -

Surat Edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait batasan tarif rapid test antibodi untuk COVID-19 dengan biaya tertinggi hanya Rp 150 ribu mendapat kritikan dari sejumlah pihak. Tarif mahal dari rapid test selama ini dianggap ada yang memanfaatkan menjadi ladang bisnis.

Dirangkum detikcom, kritikan terkait rapid test yang dimanfaatkan menjadi bisnis itu datang dari Anggota Ombdusman Alvin Lie dan Pakar Epidemiolog Universitas Indonesia Pandu Riono. Keduanya sepakat bahwa biaya rapid test atau tes PCR telah dikomersialkan oleh sejumlah pihak.

Alvin mengatakan seseorang yang telah melakukan rapid test tidak menjamin bahwa orang tersebut terbebas dari virus. Hal tersebut dikarenakan, rapid test antibodi ini tidak mendeteksi virus dalam tubuh seseorang.

"Ini juga membuktikan bahwa rapid test itu tidak mendeteksi apakah seseorang itu tertular Covid atau tidak, hanya test antibodi," kata Alvin kepada wartawan, Rabu (8/7/2020).

Tonton juga 'Anggaran Kesehatan untuk Corona Baru Terserap 5,12% dari Rp 87,55 T':

[Gambas:Video 20detik]

Berikut catatan kritis terkait rapid test:

Selanjutnya
Halaman
1 2 3