Spesifikasi Canggih Pesawat MV-22 Osprey AS yang Bakal Dibeli RI

Elza Astari Retaduari - detikNews
Rabu, 08 Jul 2020 14:04 WIB
Pesawat Militer MV-22 Osprey
Foto: Ilustrasi Pesawat MV-22 Osprey. (Dok. Twitter Real Clear Defense).
Jakarta -

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyetujui kemungkinan penjualan Pesawat MV-22 Block C Osprey beserta persenjataan lainnya kepada pemerintah Indonesia. Indonesia direncanakan membeli 8 pesawat tempur itu beserta persenjataan lainnya dengan nilai USD 2 Miliar atau sekitar Rp 29 triliun.

Pesawat yang digunakan Korps Marinir AS ini merupakan joint venture antara Boeing dan Bell Helicopter. Dilansir dari situs Boeing, Rabu (8/7/2020), pesawat yang dikembangkan perusahaan patungan itu masuk dalam jenis tiltroar yang menjual keunggulan bisa lepas landas, mendarat, dan melayang seperti helikopter.

Dalam keterangannya, Boeing menyebut Pesawat MV-22 Block C Osprey dapat dikonversi ke mode pesawat turbopop yang mampu terbang dengan kecepatan tinggi ketinggian yang mumpuni. Boeing mengklaim kombinasi tersebut dapat menghasilkan kemampuan jangkauan global yang memungkinkan V-22 Osprey jauh melebihi jenis pesawat lainnya.

Adapun spesifikasi pesawat jenis angkut ini berdasarkan keterangan Boeing adalah sebagai berikut:

- Mesin: Two Rolls-Royce AE1107C, 6,150 shp (4,586 kW) each
- Panjang: Fuselage: 57.3 ft. (17.48.20 m); Stowed: 63.0 ft. (19.20 m)
- Lebar: Rotors turning: 84.6 ft. (25.78 m); Stowed: 18.4 ft. (5.61 m)
- Tinggi: Nacelles vertical: 22.1 ft. (6.73 m); Stabilizer: 17.9 ft. (5.46 m)
- Diameter Rotor: 38.1 ft (11.6 m)
- Vertical Takeoff Max Gross Weight: 52,600 lbs. (23,859 kg)
- Kecepatan maksimum terbang: 270 kts (500 km/h) SL
- Radius Misi: 428 nm - MV-22 Blk C with 24 troops, ramp mounted weapon system, SL STD, 20 min loiter time
- Kokpit - kursi kru: 2 MV / 3 CV

Dihimpun dari berbagai sumber, Bell-Boeing telah memenangkan kontrak memproduksi dan mengirimkan total 58 jenis pesawat ini ke Angkatan Laut, Marinir, dan Angkatan Udara AS. Selain itu, Pemerintah Jepang juga telah menggunakan pesawat ini. Bila jadi membeli, maka Indonesia akan menjadi negara ketiga yang menggunakan Pesawat MV-22 Block C Osprey.

Terkait pembelian Pesawat MV-22 Block C Osprey, Kementerian Pertahanan belum memberikan informasi detil. Menurut Kabiro Humas Kementerian Pertahanan, Brigjen Djoko Purwanto, pembelian Osprey masih dalam pembahasan.

"Kebutuhan alutsista masih dalam pembahasan dengan U.O angkatan," ucap Djoko saat dimintai konfirmasi, hari ini.

Djoko juga menyatakan belum ada deal apa-apa antara Indonesia dengan AS terkait pembelian Pesawat Osprey. "Belum," tuturnya.

Sementara itu menurut Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid, pihaknya belum mengetahui ada rencana pembelian 8 pesawat MV-22 Osprey dari AS. Komisi I merupakan mitra kerja Kemenhan yang salah satu tugasnya berkaitan dengan urusan pertahanan negara.

"DPR tidak membahas hingga satuan tiga. Sehingga jenis pesawat tidak pernah dibahas dalam rapat-rapat," ujar Meutya, dihubungi terpisah.

Sebelumnya diberitakan, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan telah menyetujui kemungkinan penjualan pesawat MV-22 Block C Osprey beserta persenjataan lainnya kepada pemerintah Indonesia. Berdasarkan keterangan resmi dari Defense Security Cooperation Agency (DSCA), usulan penjualan pesawat MV-22 Block C ini telah disampaikan kepada Kongres AS. Dalam situs itu disebutkan bahwa pemerintah Indonesia mengajukan paket belanja militer, termasuk 24 AE 1107C Rolls Royce Engine, 20 sistem peringatan rudal AN/AAR-47, 20 penerima peringatan radar AN/APX-117, dan alat persenjataan lain.

"Usulan penjualan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan mitra regional yang penting yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik," demikian keterangan tertulis dari DSCA.

"Ini sangat penting untuk Amerika Serikat membantu Indonesia mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan efektif," lanjut keterangan tersebut.

DSCA menyatakan belanja militer tersebut akan membantu meningkatkan kemampuan Indonesia dalam penanganan bencana dan mendukung operasi militer. Usulan penjualan peralatan ini juga disebut tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan.

"Tidak akan ada dampak buruk pada kesiapan pertahanan AS sebagai hasil dari usulan penjualan ini," tulis DSCA.

(elz/van)