Peningkatan Kesadaran COVID-19 Bisa Lewat Lagu di Tingkat RT/RW

Angga Laraspati - detikNews
Sabtu, 04 Jul 2020 11:14 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat
Foto: Istimewa
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan dalam upaya menanamkan kesadaran individu dan menggerakkan ekonomi rakyat dalam masa kenormalan baru perlu ada langkah yang kreatif.

Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, langkah yang sederhana namun kreatif merupakan modal penting bagi masyarakat untuk terus melanjutkan hidup dan kreatif menciptakan sumber pendapatan baru.

"Kesadaran individu perlu ditumbuhkan segera lewat sejumlah kreativitas warga dan pemerintah agar ekonomi rakyat bisa bergerak di masa pandemi COVID-19," kata Rerie dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2020).

Peningkatan kesadaran masyarakat, lanjut Rerie, bisa dimulai lewat sosialisasi kreatif di tingkat RT/RW untuk membiasakan warga memakai masker, jaga jarak dan sering cuci tangan.

"Bisa lewat peragaan langsung, mengingatkan lewat lagu atau bentuk kreativitas lainnya," imbuhnya.

Pendapat Rerie tersebut menyikapi keputusan Pemprov DKI Jakarta untuk memperpanjang masa penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi selama dua pekan ke depan. Menurutnya, belum tercapainya target PSBB transisi pertama di DKI Jakarta karena belum terbentuknya kesadaran masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.

"Tiga hal itu saja dulu, cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker dijadikan kebiasaan baru warga, lewat sosialisasi dari relawan lingkungan RT/RW bisa melibatkan ibu-ibu PKK atau relawan Jumantik yang bisa masuk ke setiap rumah tangga," ujar Rerie.

Legislator Partai NasDem itu yakin pola sosialisasi dengan berbagai cara yang kreatif dan langsung ke rumah tangga, efektif untuk membangun kesadaran baru dalam menjalankan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.

"Tentu saja upaya penanaman kesadaran baru itu perlu diikuti dengan kreativitas setiap pemerintah daerah untuk menyediakan kelengkapan penunjangnya seperti bantuan masker dan fasilitas cuci tangan bila diperlukan," ungkap Rerie.

Sementara itu, Rerie merujuk proyeksi laju ekonomi nasional yang dipaparkan Kementerian Keuangan, akhir Juni 2020. Dalam penjelasan proyeksi itu disebutkan laju perekonomian nasional dihantui peningkatan pengangguran dan kemiskinan.

"Tahun ini pemerintah sedang berusaha berada di skenario minus 0,4-1% pertumbuhan PDB. Skenario tersebut bukan skenario yang bagus, tapi ini skenario untuk bertahan supaya perekonomian jangan jatuh terlalu dalam," tuturnya.

Dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut, menurut Rerie, berpotensi meningkatkan jumlah masyarakat miskin 3,02 juta sampai 5,71 juta orang. Begitu juga, tambahnya, dengan angka pengangguran yang diprediksi meningkat sekitar 4,03 juta sampai 5,23 juta orang.

"Untuk itu saya kembali mengajak, seluruh warga masyarakat, bukan hanya warga DKI Jakarta, untuk bekerja bersama-sama dan konsisten menjaga kesehatan agar ekonomi bisa bergerak," pungkasnya.

(mul/mpr)