Audiensi Soal Keringanan UKT Kuliah, Mahasiswa: Kemendikbud akan Kasih Subsidi

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 18:12 WIB
Demo mahasiswa di Kemendikbud menuntut soal UKT
Foto: Demo mahasiswa di Kemendikbud menuntut soal UKT. (Rahel Narda Chaterine/detikcom).
Jakarta -

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan audiensi dengan sejumlah mahasiswa yang sempat melakukan demo menuntut keringanan uang kuliah tunggal (UKT). Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Gerakan Mahasiswa Jakarta Bersatu itu menyebut Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud akan memberikan subsidi biaya kuliah tersebut.

Audiensi itu dilakukan bersama Plt Dirjen Dikti Nizam secara tertutup di Gedung D Kemendikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2020). Salah satu mahasiswa yang mengikuti audiensi bernama Abraham mengatakan pihak pendidi Dikti akan memberikan subsidi biaya pendidikan bagi mahasiswa yang tidak mampu.

"Jadi begini tadi kita diterima oleh Dirjen Dikti bersama stafnya. Yang kita sampaikan terkait tuntutan aksi kemarin kan. Kita meminta biaya pendidikan itu di masa pandemi dikurangi 50 persen dan kita tidak menginginkan pendidikan ini dikomersialisasi dan diliberalisasikan," kata Abraham usai audiensi.

"Respon dari dirjen tadi dia menyampaikan untuk kebijakan pemotongan biaya 50 persen sepertinya itu tidak menganut keadilan. Ternyata mereka membuat kebijakan untuk mensubsidi. Jadi yang disubsidi itu semester 3, semester 5, sama semester 7. Jadi bagi mahasiswa yang memang bener-benar tidak mampu dan itu bisa disubsidi langsung oleh pihak Dikti, pihak pemerintah melalui dikti ke kampus," sambungnya.

Abraham mengatakan dalam audiensi tersebut telah ada negosiasi yang sama-sama menguntungkan kedua pihak. Menurutnya, mahasiswa yang benar-benar tidak mampu bisa mendapat pemotongan biaya kuliah hingga 100 persen.

"Kita mendapatkan garis besar bahwasanya kita menginginkan pemotongan biaya 50 persen tetapi Dikti akan memberikan subsidi. Itu jadi win win solution itu bahkan 100 persen, dia nggak 50 persen loh subsidi nya. Misalnya saya biaya kuliah saya Rp 3 juta, saya tidak mampu, saya disubsidi sama negara melalui Dikti itu ya Rp 3 juta," ucap Abraham.

Selain itu, Abraham juga mengungkapkan kekecewaan dari Gerakan Mahasiswa Jakarta bersatu terhadap Mendikbud Nadiem Makarim. Mereka kecewa karena masih belum dapat melakukan audiensi secara langsung bersama Nadiem.

"Kita pertama kecewa dengan Nadiem Makarim kalau terkait sikap kita ya. Karena dia menyampaikan kemarin tidak berkenan ketemu dengan mahasiswa. Karena kita ini adalah anak kandung dari dunia pendidikan yang datang ke rumahnya meminta keadilan dan kebijakan yang merata untuk seluruh mahasiswa tapi Nadiem sebagai menteri tidak menginginkan bertemu sama kita. Kan kita sangat kecewa," tutur Abraham.

Sementara itu mahasiswa bernama Ritus menambahkan soal adanya tuntutan mahasiswa lainnya terkait intimidasi di lingkungan kampus. Menurutnya, pihak Dikti juga akan menindaklanjuti hal tersebut.

"Dua dari tuntutan kita tadi yang juga di sini adalah soal intimidasi terhadap aktivis kampus. Itu maksudnya.. tanggapan dari Dikti memang akan segera ditindaklanjuti beberapa kampus yang melakukan itu akan ditindak lanjuti," kata Ritus, dalam kesempatan yang sama.

Sebelumnya, sejumlah mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Jakarta Bersatu beraksi di depan kantor Kemendikbud, kemarin. Mereka menuntut adanya keringanan biaya UKT sebesar 50 persen.

"Kita menuntut Nadiem Makarim membuat kebijakan untuk keringanan biaya UKT atau SPP 50 persen. Betul teman-teman. Kami tidak akan pulang pak sebelum kami bertemu Pak Nadiem Makarim. Kami tak akan pulang sebelum Pak Nadiem menyetujui tuntutan kita," kata orator dari mobil komando di lokasi, Kamis (2/7).

(elz/ear)