Kasus Baru Corona Masih Tinggi, Pj Walkot Makassar: Warga Belum Patuh

Ibnu Munsir - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 15:46 WIB
Pj Walikota Makassar, Rudy Djamaluddin (dok. Istimewa).
Pj Walikota Makassar Rudy Djamaluddin (Foto: dok. Istimewa)
Makassar -

Tambahan kasus positif di Kota Makassar, yang menjadi episentrum utama penularan virus Corona (COVID-19) di Sulawesi Selatan, masih tinggi. Pj Wali Kota Makassar Rudy Dhamaluddin mengatakan masyarakat belum mematuhi aturan protokol kesehatan.

"Itu menunjukkan fakta bahwa masih banyak warga kita yang belum patuh," kata Rudy di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar, Jumat (3/7/2020).

Untuk diketahui, tambahan kasus Corona di Makassar dalam sepekan ke belakang berada di atas rata-rata 100, yakni pada 26 Juni 120 orang, 27 Juni 38 orang, 28 Juni 153 orang, 29 Juni 124 orang, 30 Juni 53 orang, 1 Juli 112 orang, dan 2 Juli lalu sebanyak 81 orang. Data terakhir Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Makassar, hingga saat ini total 3.075 orang di Makassar terkonfirmasi positif Corona. Dari angka itu, 2.008 masih dirawat, 933 sembuh, dan 134 meninggal.

"Jadi itulah sebenarnya fakta yang menunjukkan bahwa kepatuhan warga Makassar khususnya di dalam menghadapi COVID-19 ini masih perlu kita masih dorong terus untuk semakin patuh," ujar Rudy.

Rudy menegaskan kunci menyelesaikan COVID-19 di Makassar cukup sederhana. Warga mematuhi protokol kesehatan untuk mencegah penularan Corona.

"Kalian semua menggunakan masker. Kalau seluruh warga Makassar menggunakan masker, menjaga jarak, rajin cuci tangan, ini pandemi COVID-19 akan selesai," tuturnya.

Rudy juga mengaku akan terus mendorong kebijakan yang dapat meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan.

"Saya sudah minta tolong kepada para ustaz kita, mubalig, pengurus-pengurus masjid melalui MUI, kalau bisa secara kontinu kita edukasi masyarakat kita, bahwa menghadapi COVID-19 ini tidak bisa kita cuma berbicara, tapi perlu tindakan. Nah, tindakan yang paling sederhana, itu masyarakat menggunakan masker dan jaga jarak," imbuhnya.

Kota Makassar juga menempati urutan kedua kabupaten/kota yang memiliki laju insiden atau incident rate kasus COVID-19 tertinggi di Indonesia. Hal ini seperti yang dipaparkan Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Dr Dewi Nur Aisyah. Incident rate mengambil rumus membandingkan angka kasus positif per jumlah penduduk.

Berikut ini data top 10 kabupaten/kota dengan insiden kasus tertinggi:
1. Jakarta Pusat, DKI (227,78 per 100 ribu penduduk)
2. Kota Makassar, Sulsel (204,53 per 100 ribu penduduk)
3. Kota Surabaya, Jatim (194,59 per 100 ribu penduduk)
4. Kota Jayapura, Papua (184,8 per 100 ribu penduduk)
5. Kota Banjarmasin, Kalsel (182,98 per 100 ribu penduduk)
6. Kota Manado, Sulut (169,86 per 100 ribu penduduk)
7. Luwu Timur, Sulsel (164,13 per 100 ribu penduduk)
8. Kota Mataram, NTB (151,37 per 100 ribu penduduk)
9. Kota Ambon, Maluku (145,85 per 100 ribu penduduk)
10. Kota Palangka Raya, Kalteng (131,2 per 100 ribu penduduk).

Tonton video 'Penjemputan PMI Deportan di Parepare Abaikan Protokol Kesehatan':

(nvl/idh)