Soroti Data Penumpang KRL, Bima Arya Pertanyakan Penerapan Shift Kerja di DKI

M Solihin - detikNews
Kamis, 02 Jul 2020 23:54 WIB
Wali Kota Bogor Bima Arya
Foto: Bima Arya (M. Sholihin)
Bogor -

Wali Kota Bogor Bima Arya mempertanyakan pelaksanaan kebijakan shift kerja oleh perkantoran di Jakarta selama PSBB berlaku. Bima Arya melihat adanya lonjakan jumlah penumpang kereta pada pekan ini, yang keramaiannya mendekati hari biasa sebelum masa pandemi Corona.

"Penumpang kereta hari Senin dan hari Selasa kemarin, penumpang kereta cukup banyak, bahkan mendekati kondisi normal. Bus bukan solusi, tidak mungkin ribuan bus kita siapkan setiap hari. Jadi solusinya hanya dua. Pertama adalah pengaturan shift kerja perkantoran di Jakarta. Nah, saya rasa ini belum berjalan maksimal, bahkan jangan-jangan belum berjalan," kata Bima Arya dalam konferensi pers terkait evaluasi pelaksanaan PSBB di masa transisi di Kota Bogor, Kamis (2/7/2020).

"Kebijakan dari Gugus Tugas ini (pengaturan shift kerja) harus diingat dulu, apakah benar-benar direspons oleh kantor-kantor di Jakarta atau tidak," tambah Bima.

Selain penerapan kebijakan shift kerja secara maksimal, kata Bima, solusi menghindari penularan oleh penumpang kereta adalah melakukan tes swab secara masif di stasiun kereta.

"Jadi, kalau sudah kuat protokol kesehatannya, semua pakai masker, semua tidak berbicara, semua juga siap menjaga jarak ketika antre, kemudian juga tidak terjadi penularan, maka sistem akan berjalan. Akan ditambah kapasitas gerbongnya," kata Bima didampingi Ketua Gugus Tugas COVID-19 Kota Bogor Dedie A Rachim.

"Tetapi, kalau hasilnya mengatakan sebaliknya, ternyata sangat rawan penularan, saya kira mau tidak mau shift kerja ini jadi pilihan," sambung Bima.

Bima menyebut pengadaan bus untuk pekerja kantoran di Jakarta yang saat ini berjalan bukan solusi dan tidak mungkin dilakukan dalam jangka panjang.

"Karena tidak mungkin bus, karena bus itu hanya sementara. Untuk permanen, kita tidak bisa memakai bus. Bus tidak mungkin ditambah, gerbong tidak mungkin ditambah, frekuensi kereta juga tidak mungkin ditambah. Jadi solusinya shift kerja atau protokol kesehatan yang sangat kuat sehingga tidak terjadi penularan," tutup Bima.

(gbr/gbr)