Round-Up

Ujung Pelarian 2 Penganiaya Petugas Damkar Makassar

Tim detikcom - detikNews
Senin, 29 Jun 2020 22:03 WIB
Petugas Damkar Dipukul di Makassar
Petugas Damkar Makassar dipukul saat memadamkan kebakaran di Jalan Kerung-kerung. (dok. Istimewa)
Makassar -

Tiga petugas pemadam kebakaran (damkar) Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), dianiaya warga saat bertugas. Pelaku kini sudah ditangkap.

Peristiwa penganiayaan itu terjadi saat korban bertugas memadamkan api di Jalan Kerung Kerung, Makassar, sekitar pukul 11.00 Wita. Kebakaran menimpa belasan rumah warga.

Para korban penganiayaan antara lain Andi Bahrul, Andi Syaruddin, dan Rahman Rahim. Kabid Ops Damkar Makassar, Hasanuddin, mengatakan satu dari 3 anggotanya yang menjadi korban bahkan harus mendapat jahitan karena kepala robek.

"Tiga orang anggota kena pukul," ujar Hasanuddin, Minggu (28/6).

Komandan Damkar Kompi C, Rustam Jufri, yang juga turun tangan ke lokasi, menyebut sejak awal menjadi sasaran intimidasi hingga kekerasan oleh warga. Sejumlah armada damkar Makassar juga menjadi sasaran kekerasan oleh warga.

"Pertama alat pemadam diambil alih, anggota dipukul, kaca mobil dipecah, tapi kita tetap melaksanakan tugas," katanya.

Rustam menduga warga setempat melakukan aksi kekerasan ke petugas lantaran menganggap petugas terlambat datang ke lokasi. Karena merasa terancam, petugas damkar harus angkat kaki dari lokasi.

"Pas kita proses pendinginan, anggota kita dipukul lagi, makanya kita tinggalkan keselamatan kita tidak terjamin," katanya.

Penganiayaan ini pun berujung penangkapan pada dua orang terduga pelaku penganiayaan. Dua pelaku yang diamankan adalah Sudirman (41) dan Sadam Akbar (41).

Polisi menyebut para pelaku awalnya mengintimidasi para petugas damkar hingga diwarnai adu mulut. Tidak lama kemudian, pelaku memukul petugas.

"Cekcok, gitu aja, tiba-tiba mukul aja," sebut Kanit Jatanras Polrestabes Makassar Iptu Eka Bayu Budhiawan saat dihubungi, Senin (29/6/2020).

"Ya kalau dilihat dari tempat kejadian kan memang ribetlah di situ, damkar ini ribet kan dalam artian pergerakannya, jadi tersendatlah, dan di sini warga ada yang kompor-kompori," katanya.

(idn/aik)