Kolom Hikmah

New Iman Lecut Bebas Covid-19

Abdurachman - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 07:56 WIB
Abdurachman, guru besar UNair
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Era bebas Covid-19 menyempurnakan hidup bersih, cuci tangan, melepas segala yang kotor terutama melalui tangan. Baik kotoran yang terlihat terutama kotoran yang sulit dipandang mata dan berbahaya. Pakai masker, menghindarkan diri dari droplet, percikan bahan cairan lendir dan bahan kotor, terlebih bahan terinfeksi yang keluar dari mulut dan hidung. Asupan udara lebih bersih, lebih higienis, lebih sehat.

Jaga jarak, supaya betapa pun droplet tersembur dari arah orang lain, tidak sampai menimpa kawan atau orang-orang di sekitar. Penyebaran bahan infeksi terutama yang berjalan mengendarai droplet terputus. Rantai penularan bisa dipatahkan.

Sejumlah upaya bersih dari bahan kotor terutama infectan penyebab penyakit khususnya SARS-CoV-2, menjadi kewajiban dasar menyambut era bebas Covid-19.

Sepasang Entitas Manusia

Manusia terdiri dari fisik-nonfisik yang saling berkelindan. Sepasang entitas ini memiliki peran masing-masing, saling kait-mengait. Dari riset dapat dibuktikan bahwa peran nonfisik mencapai 90 persen lebih besar dibandingkan peran fisik di dalam mempengaruhi hasil dari proses kehidupan. Termasuk proses tubuh di dalam menghadapi kehidupan bebas Covid-19.

Sesuai informasi al-Hadits kekuatan diri seseorang diperankan oleh kekuatan iman yang dimiliki. Kekuatan iman adalah kekuatan keyakinan. Ia berada di dalam hati. Yang dimaksud hati adalah inti dari entitas nonfisik, bukan hati liver yang terdiri dari entitas fisik.

Iman yang kuat dibuktikan dengan sikap yang baik. Dari informasi al-Hadits dapat diketahui bahwa iman terdiri dari 60 cabang lebih. Yang tertinggi adalah kalimat laa ilaaha illaa Allah, yang paling rendah menyingkirkan halangan (semisal duri) di jalan yang dilalui orang.

Kuat lemahnya iman seseorang bisa dinilai dari sikap dan perilakunya. Iman yang kuat dibuktikan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan kebaikan yang berkualitas. Kemampuan berbagi, kemampuan menolong, kemampuan memaafkan, mendoakan dan memohonkan ampunan bagi orang lain. Semuanya dilakukan dengan tulus karena mengharap ridlo Tuhan. Beberapa kemampuan itu bisa dirangkum sebagai kemampuan menyayangi orang lain dengan tulus, tampa pamrih kecuali hanya karena mengharap ridlo Tuhan.

Legitimasi iman yang demikian bisa terbaca dari kalimat syahadat yang kedua ialah "Aku bersaksi/bersumpah bahwa Rasulullah saw. adalah utusan Allah", sebagian maknanya adalah bahwa aku bersumpah (janji kuat) untuk selalu meneladani Rasulullah saw. Apa yang harus diteladani dari beliau? Adalah merahmati semesta, karena hakikat beliau adalah rahmat bagi semesta, "wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil 'aalamiin" (QS. 21;107) tidaklah engkau diutus kecuali sebagai rahmat bagi semesta. Ialah menimpakan kasih sayang tulus atas nama Tuhan kepada siapa pun, manusia, jin, tanaman dan apa pun di alam semesta termasuk anjing.

Pernah suatu ketika berjalanlah seorang perempuan yang biasa mengerjakan hal yang dijauhi masyarakat karena sangat hina. Di pertengahan jalan yang tandus, tampaklah seekor anjing yang kehausan mengitari sebuah sumur. Sumur cukup dalam sehingga sulit bagi anjing untuk meneguk air.

Demi tampak olehnya anjing yang menjulur-julurkan lidahnya, terengah kehausan, timbul iba di hatinya. Diambilnya bagian bajunya yang bisa dijadikan semacam tali pengangkat. Sepatunya ia lepas, kain tadi dia ikatkan ke sepatunya lalu ia upayakan memperoleh sebagus mungkin jumlah air dari dalam sumur.

Air cukup untuk sementara menebus haus yang mengerat leher anjing. Binatang itu minum penuh lahap sambil mengibaskan ekornya tanda terimakasih yang membahagiakan.

Demi perbuatannya itu, Tuhan berterimakasih kepadanya. Dosanya diampuni Tuhan. Subhaanallah.

Inilah sebagian makna iman sebagai kekuatan hati untuk menebarkan rahmat kasih sayang kepada semesta tanpa peduli apakah akan memperoleh terimakasih, balasan atau apa pun, terlebih dari seekor anjing.

Membaca kisah yang dilegitimasi al-Hadits ini lalu sebagian orang bertanya, bagaimana kalau orang yang rajin melaksanakan ibadah shalat, membayar zakat, puasa ramadlan, berhaji dan ibadah-ibadah tambahan lain yang menggiurkan? Apakah mungkin bisa sejajar atau melampaui perbuatan perempuan itu? Sedangkan perempuan itu terkenal ahli keliru, berbuat hina?

Boleh jadi sebagian orang lalu berkenan menjawabnya singkat, pasti perbuatan tadi sangat mulia asal saja mampu memberikan dampak rahmat kasih sayang bagi semesta. Jika tidak demikian, boleh jadi malah menyengsarakan. Betapa tidak karena seluruh perbuatan yang dikira mulia tadi sesungguhnya hanyalah sia-sia dan mencelakakan dirinya, bahkan diancam api neraka. Kok bisa?

Alasan ini ada di dalam Quran surat al-Maa'uun (107) ayat 1 sampai 5. Boleh jadi, orang banyak melakukan shalat tetapi shalatnya belum bisa memberikan dampak rahmat bagi dirinya, terlebih bagi lingkungannya. Shalat yang dilakukannya bisa saja sia-sia. Jika melalui shalatnya itu dia masih enggan memberikan pertolongan kepada sesama, menahan makanan orang miskin yang dititipkan Tuhan kepadanya, bahkan kepada anak-anak yatim yang berhak memperoleh kasih sayang tulus ia hardik. Na'uudzubillaah.

Iman yang kuat pasti dibuktikan dengan kehebatan menebarkan kasih sayang kepada semesta. Kondisi demikian di dalam psikologi dikenal sebagai orang yang memiliki jiwa yang baik. Jiwa yang baik mampu melecut imunitas atasi infeksi (Cohen dkk., 2001), termasuk infeksi SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Banyak ilmuwan lain yang melakukan penelitian dan hasilnya mendukung penemuan Cohen. Mereka adalah: Lutgendorf & Costanzo (2003); Barak (2006); Ryff dan Singer (2013); Freitas dkk., (2015); Fredrickson dkk. (2015); Rickard dkk. (2016) dan masih banyak lagi.

Mari sempurnakan iman, kita maju di kehidupan mendatang bebas Covid-19. Sempurnanya iman memungkinkan orang bebas dari infeksi apa pun, ialah melalui rahmat kasih sayang tulus kepada semesta!

Abdurachman

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA)

Past President APICA-6

Executive Board Member of APICA

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab pengirim. --Terima kasih (Redaksi)

(erd/erd)