Al-Ta'lim al-Muta'allim (11)

Long Life Education

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 07:00 WIB
Poster
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Dalam artikel terdahulu dijelaskan mengapa ayat pertama diturunkan ialah kalimat perintah untuk membaca atau belajar kepada orang yang sudah berumur 40 tahun? Ayat ini sesungguhnya mendeklarasikan bahwa hak mengecap pendidikan bukan hanya untuk anak-anak seperti yang pernah diperkenalkan di dunia barat yang terkenal dengan konsep paedagogik atau ilmu mendidik anak. Walaupu belakangan para ahli pendidik modern mengevaluasinya dengan memperkenalkan konsep adregogik atau ilmu mendidik orang, yang tidak mesti hanya konotasinya anak-anak tetapi juga untuk orang dewasa.

Islam sejak awal memperkenalkan konsep pendidikan seumur hidup (long life education). Selain Nabi Muhammad mendapatkan perintah untuk membaca ketika berumur 40 tahun, ia juga menyerukan betapa perlunya menuntut ilmu untuk manusia pada segala umur. Ia pernah mengatakan: "Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat". Pernyataan ini luar biasa dilihat dari segi urgennsi ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan pengembangan sumber daya manusia. Sayyidina Ali juga pernah menyatakan: "Didiklah anakmu 25 tahun sebelum lahir", mungkin maksudnya perlu mencari bibit genetik unggul untuk pasangan anak-anak kita untuk masa perkawinannya kelak. Kedua pernyataan ini mengisyaratkan kepada kita bahwa pendidikan itu untuk segala umur, bukan hanya saat anak atau sudah dewasa tetapi pra anak pun ada isyarat pendidikannya.


Mendidik anak-anak ketika dalam keadaan janin dan masih berdiam di dalam rahim ibu, juga kita diisyaratkan melakukan pendidikan awal untuk anak tersebut. Di antara isyarat itu ialah anjuran untuk berhati-hati memberi makanan dan minuman terhadap isteri yang sedang hamil. Bukan hanya harus bersih dari unsur haram tetapi juga hal-hal yang secara kimiawi bisa membahayakan. Larangan khusus minum atau makan hal-hal yang memabukkan sangat ditekankan. Para ulama justru menganjurkan perempuan yang sedang hamil untuk lebih banyak beribadah dan menambah kualitas ibadah dan berdoa agar anak dalam kandungannya adalah anak-anak saleh atau salehah. Kita di anjurkan selalu membaca Al-Qur'an, tidak boleh membicarakan aib dan kelemahan orang lain khususnya ketika sedang mengandung. Sang suami juga demikian halnya, dianjurkan untuk lebih bersikap lemah-lembut terhadap isterinya yang sedang hamil tua. Seolah-olah perilaku ayah dan ibu janin dalam kandungan bisa memberikan dampak langsung atau tidak langsung terhadap kecerdasan dan kesalehan janin.


Dalam tradisi Betawi dan sejumlah etnik lain di tanah air, perempuan yang sedang hamil seringkali diupacara-ritualkan, mulai kehamilan tiga bulan, delapan bulan, dan berlanjut dengan tradisi aqikah dan pemberian nama bayi. Ini semua menunjukkan bahwa pendidikan itu harus dimulai sejak dini sampai akhir hayat seseorang.
Usia lanjut tidak ada masalah untuk urusan pendidikan. Bahkan ada sejumlah subyek pendidikan lebih tepat dipelajari atau diajarkan kepada mereka yang sudah berusia matang, seperti subyek pendidikan tasawuf, khususnya masalah-masalah kemakrifahan, kalam atau teologi, dan materi lainnya. Selain kecerdasan intelektual juga diperlukan kematangan intelektual dan spiritual bagi mereka yang ingin mendalami beberapa subyek ilmu tertentu.


Pengalaman sejarah membuktikan juga bahwa banyak sekali orang yang tercatat sebagai orang besar dalam sejarah bukan lantaran efektif belajar di usia anak-anak, tetapi karena menganggap pendidikan itu sebagai the long life education.

(lus/lus)