Program 'Seribu Rupiah' Polisi Berbuah Rumah untuk Nenek 87 Tahun di NTB

Audrey Santoso - detikNews
Minggu, 28 Jun 2020 04:51 WIB
Bantuan untuk Nenek di Lombok Utara
Foto: Dok. Polda NTB
Lombok Barat -

Seorang warga Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) bernama Si'in tak menduga dirinya akan dihadiahi sebuah rumah. Pasalnya janda berusia 87 tahun ini sudah lebih dari setengah abad tinggal di gubuk reyot, tanpa listrik dan air bersih.

Inisiatif pemberian rumah itu datang dari jajaran Polres Lombok Barat yang iba melihat kondisi Nenek Si'in di usia senjanya. Maka tercetus niatan untuk menghadiahi Nenek Si'in tempat tinggal layak huni.

"Berawal dari program pendistribusian beras bantuan Polri kepada masyarakat yang terdampak pandemi COVID-19 yang distribusikan oleh bhabinkamtibmas Desa Lembar Selatan, Bripka Suhaemi bersama babinsa setempat, Sertu Markinun kepada masyarakat. Ditemukanlah salah seorang warga atas nama Inaq (panggilan untuk wanita tua di Lombok-red) Si'in yang tinggal di rumah yang tidak layak huni, di mana rumah yang ditempati berupa sebuah bangunan sederhana tanpa fasilitas listrik dan air bersih," kata Kapolda NTB, Irjen Mohammad Iqbal, dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/6/2020).

Iqbal mengatakan Bripka Suhaemi langsung melapor ke atasannya, hingga kondisi Nenek Si'in terdengar oleh Kapolres Lombok Barat AKBP Bagus S Wibowo. Akhirnya jajaran polres mengumpulkan uang lewat program 'Seribu Rupiah' selama tiga bulan untuk menyulap gubuk reyot Nenek Si'in menjadi rumah layak huni.

"Dari hasil penelusuran bhabinkamtibmas diketahui bahwa Inaq Si'in adalah seorang janda yang mempunyai dua orang anak. Sejak1955 Inaq Si'in tinggal di rumah tersebut bersama kedua orang anaknya. Dan sekitar 1985, kedua orang anaknnya berkeluarga dan menetap di Gili Asahan, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Semenjak itu Inaq Si'in tinggal sendiri di rumah tersebut," ujar Iqbal.

Bantuan untuk Nenek di Lombok UtaraProgram Seribu Rupiah Polisi Foto: Dok. Polda NTB

Iqbal menuturkan Nenek Si'in bertahan hidup dari bantuan para tetangganya. Terkadang, lanjut Iqbal, kedua anaknya mengirimkan uang kepada dia.

"Untuk biaya hidup terkadang dikirimkan oleh kedua anaknya, tetapi lebih sering mendapatkan uluran tangan para tetangganya. Inaq Si'in sehari-harinya tidak memiliki pekerjaan. Untuk biaya hidup saja kekurangan, apalagi untuk memperbaiki rumah," ucap Iqbal.

Selanjutnya
Halaman
1 2