Ketua DPD RI Ingatkan Tiga Sektor Prioritas di Masa Pandemi COVID-19

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 27 Jun 2020 21:40 WIB
Ketua DPD LaNyalla
Foto: Ketua DPD RI LaNyalla Mattalitti (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menegaskan pentingnya memprioritaskan tiga sektor ketahanan di masa pandemi COVID-19. Ketiga sektor ketahanan tersebut adalah kesehatan, pangan, dan sosial.

Hal ini diungkapkan LaNyalla di depan peserta Rapat Kerja Nasional Virtual PB IKAMI Sulawesi Selatan, Sabtu (27/6/2020). Menurutnya, ketiga sektor ketahanan tersebut merupakan hal yang harus diprioritaskan.

"Inilah sebenarnya tantangan kita. Itulah mengapa saat saya bertemu Presiden Jokowi dalam rangka konsultasi bulan Februari lalu, saya sudah sampaikan kepada Presiden pentingnya memprioritaskan tiga ketahanan ini di Indonesia di masa pandemi," kata LaNyalla dalam keterangan tertulisnya.

LaNyalla juga mengatakan, saat ini Indonesia sedang memerlukan seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu dalam menghadapi wabah COVID-19. Menurutnya persatuan tersebut juga membutuhkan peran serta mahasiswa dan pelajar Indonesia.

"Termasuk memanggil para mahasiswa dan pelajar, untuk ikut berkiprah dalam menghadapi situasi sulit ini," tutur LaNyalla.

Selain itu dalam salah satu pertemuannya dengan Presiden Jokowi, LaNyalla juga menyampaikan ancaman resesi global yang sudah benar-benar nyata dan bukan wacana. Menurutnya siklus suplai, demand, dan produksi di dunia akan terganggu di masa pandemi ini.

Menurut LaNyalla, Indonesia dan negara di dunia akan kembali ke teori Maslow. Teori tersebut mengenai hirarki kebutuhan manusia dalam bentuk piramida lima tingkat, di mana paling dasar adalah kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan fisiologi atau kebutuhan untuk bisa hidup. Dalam hal ini, maka orang akan berpikir dan bertindak untuk bisa makan terlebih dahulu dan melupakan kebutuhan lainnya.

"Artinya belanja masyarakat akan menurun. Disebabkan dua hal. Satu daya beli yang memang merosot karena naiknya tingkat kemiskinan dan rencana belanja serta investasi yang ditahan oleh kelas menengah dan atas. Akibatnya masyarakat dunia, termasuk Indonesia akan kembali ke teori Maslow," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2