New Normal, Peneliti Ungkap Pentingnya Perhatian ke Lansia-Difabel

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Sabtu, 27 Jun 2020 17:53 WIB
In this Monday, June 22, 2020 photo, Agustina Cañamero, 81, and Pascual Pérez, 84, hug and kiss through a plastic film screen to avoid contracting the new coronavirus at a nursing home in Barcelona, Spain. Even when it comes wrapped in plastic, a hug can convey tenderness and relief, love and devotion. The fear that gripped Agustina Cañamero during the 102 days she and her 84-year-old husband spent physically separated during Spains coronavirus outbreak dissolved the moment the couple embraced through a screen of plastic film. (AP Photo/Emilio Morenatti)
Foto: AP/Emilio Morenatti
Jakarta -

Peneliti Pusat Riset Gender dan Anak Universitas Padjajaran Antik Bintari mengatakan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak dan kaum difabel, perlu menjadi perhatian bersama dalam adaptasi kehidupan normal baru. Mereka rentan menjadi kelompok yang termarjinalkan dalam pembangunan selama masa pandemi COVID-19.

"Sebab, virus ini merupakan hal terbaru dalam garis epidemi yang membawa kesenjangan ekonomi, termasuk yang terkait dengan gender," ujarnya dalam Webinar Pemanfaatan TIK Bagi Kelompok Rentan dalam Sosialisasi Normal Baru, Sabtu, (27/6/2020).

Menurutnya jika kesenjangan semakin tinggi sesungguhnya menunjukkan perempuan miskin dan kelompok rentan dari kalangan lansia, anak-anak, dan difabel, semakin terpinggirkan dalam berbagai kebijakan pembangunan termasuk akses dalam pemanfaatan teknologi informasi dan telekomunikasi.

Oleh karena itu, kata dia, protokol kesehatan di masa New Normal tetap menempatkan prinsip inklusifitas sebagai pilar utama. Bagi penyandang disabilitas misalnya, mesti diikutsertakan dalam setiap pengambilan kebijakan.

"Penyampaian informasi diharapkan selalu menggunakan bahasa yang jelas dan sederhana termasuk perlu adanya tenaga pendukung/penerjemah. Berikan juga informasi dalam format yang dapat diakses, seperti braille atau cetakan besar," jelasnya.

Tak terkecuali bagi perempuan miskin, lansia dan anak-anak. Kebijakan New Normal tentu akan mengubah kebiasaan-kebiasaan mereka secara drastis, seperti interaksi fisik dalam tatap muka dunia nyata beralih ke virtual, sehingga TIK akan memegang peran penting di era ini.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin mengungkapkan masa-masa yang sulit imbas pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai ini juga dialami dunia. Sehingga, beradaptasi pada kehidupan baru selama pandemi ini menjadi salah satu cara untuk membangkitkan kembali pertumbuhan ekonomi termasuk kehidupan sebelumnya.

"Artinya jika masyarakat disiplin selama normal baru diterapkan, dan mampu menekan angka COVID-19, maka kurva pertumbuhan ekonomi pun bakal tumbuh baik bagi Indonesia," terangnya.

"Jadi kita harus selalu waspada dengan mengikuti protokol, agar berhasil mengontrol penyebaran virus, yang pada akhirnya dapat menyelamatkan jiwa," pungkasnya.

(prf/ega)