Guru Besar FKM UI: Polusi Udara Pengaruhi Risiko Kematian Penderita Corona

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Sabtu, 27 Jun 2020 15:35 WIB
Guru Besar FKM UI Budi Haryanto
Guru besar FKM UI Budi Haryanto (Screenshot diskusi virtual YLKI)
Jakarta -

Guru besar ilmu kesehatan lingkungan FKM (Fakultas Kesehatan Masyarakat) Universitas Indonesia (UI) Budi Haryanto mengatakan polusi udara dapat menimbulkan berbagai penyakit tidak menular dalam diri manusia. Adanya berbagai penyakit kronis tersebut kemudian dapat meningkatkan risiko kematian bagi penderita virus Corona (COVID-19).

Hal ini disampaikan dalam diskusi virtual bertema 'Dampak Sosial Ekonomi Polusi Udara di Jakarta' yang diadakan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada Sabtu (27/6/2020). Budi menjelaskan banyak penyakit tidak menular yang diakibatkan oleh polusi udara di lingkungan masyarakat.

"Kita lihat bahwa kanker, penyakit jantung, penyakit napas, terhambatnya pertumbuhan fisik tubuh, kemudian gangguan sistem saraf, itu adalah gangguan sumbangsih dari polusi udara. Yang disebut di sana penyebabnya adalah polusi udara. Dan penyakit-penyakit ini adalah penyakit tidak menular," ujar Budi dalam paparannya.

Menurut Budi, berbagai penyakit tak menular yang diakibatkan oleh polusi udara dapat memperparah kondisi pasien Corona. Penyakit tersebut pun akan menjadi penyakit komorbid bagi pasien COVID-19.

"Kita lihat bahwa polusi udara ternyata menyebabkan gangguan-gangguan penyakit kronis. Gangguan-gangguan penyakit kronis tersebut, yang kronis itu artinya menahun. Itulah yang kemudian jadi komorbiditas. Komorbiditas ini menyebabkan keparahan penderita COVID-19," ujarnya.

Budi kemudian mengatakan peneliti di Harvard, Amerika Serikat, telah melakukan penelitian tentang tingginya kadar polusi di suatu wilayah dan kaitannya terhadap penderita Corona. Dia mengungkapkan pasien COVID-19 yang tinggal di wilayah tinggi polusi memiliki risiko kematian lebih tinggi dari pasien yang berada di wilayah rendah polusi.

"Kita lihat beberapa penelitian terbaru ternyata ditemukan mereka-mereka yang tinggal di wilayah polusi udara tinggi mempunyai risiko 4,5 kali lipat lebih tinggi meninggal akibat COVID-19 dibandingkan dengan mereka yang tinggal di wilayah polusi udara rendah. Itu temuan dari Harvard yang mencakup 98 persen populasi di Amerika Serikat," kata Budi.

Lebih lanjut Budi mengatakan penelitian serupa terjadi terhadap masyarakat di Italia. Menurutnya, pasien COVID-19 di Italia yang tinggal di kawasan tinggi polusi memiliki risiko lebih tinggi meninggal dunia daripada pasien yang ada di kawasan rendah polusi.

"Kemudian di Italia juga ditemukan seperti itu. Ternyata kematian COVID-19 di wilayah yang tinggi polusi itu di Italia 12 persen kematiannya. Sementara itu, di wilayah Italia lain yang rendah polusinya cuma 4,5 persen," ucapnya.

Budi mengatakan sudah banyak penelitian yang mengemukakan adanya kaitan polusi udara yang tinggi terhadap tingkat kematian pasien COVID-19. Menurutnya, World Health Organization (WHO) pun sudah mengimbau agar setiap negara memperhatikan faktor risiko polusi udara dan kaitannya terhadap pengendalian COVID-19.

"Kemudian berbagai hasil riset ditemukan yang semuanya adalah koheren menemukan hal yg sama. Sehingga WHO, World Health Organization, menyebutkan suatu negara dengan tingkat polusi udara yang tinggi seperti kita di Indonesia harus mempertimbangkan faktor risiko polusi udara tersebut dalam persiapan pengendalian COVID-19. Karena polusi udara meningkatkan angka kematian yang tinggi," papar Budi.

(elz/ear)