Begini Teknis Salat Jumat 2 Gelombang di Masjid Nurul Islam Koja

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Jumat, 26 Jun 2020 11:52 WIB
Suasana Salat Jumat di Masjid Nurul Islam, Kel Tugu Selatan, Koja, Jakut
Suasana pelaksanaan Salat Jumat 2 gelombang di Masjid Nurul Islam Jakut (Foto: Dok detikcom)
Jakarta -

Masjid Nurul Islam Koja, Jakarta Utara masih menerapkan Salat Jumat 2 gelombang hari ini. Pengelola masjid memastikan protokol kesehatan diterapkan selama Salat Jumat berlangsung.

"Iya insha Allah kita juga patuhi jaga jarak, pakai masker dan sebagainya. Terutama jarak ya yang mempengaruhi 2 gelombang itu," Kepala Masjid Nurul Islam, Harijanto di Masjid Nurul Islam, Jumat (26/6/2020).

Harijanto mengatakan posisi jemaah sudah diatur sesuai dengan jarak. Sehingga kuota masjid yang awalnya menampung 600 orang, kini hanya bisa diisi oleh 300 jemaah.

Kemudian jika para jemaah sudah menempati posisi yang sudah diberikan tanda, maka Salat akan dimulai. Mereka yang tidak dapat tempat pun akan automatis mengikuti salat di gelombang kedua.

"Jadi, kalau normal 600, jadi kita atas bawah itu. Kalau menerapkan PSBB Transisi itu menjadi 300 (per gelombang). Ini kan jaraknya segini (1 meter), nah jadi 300, sehingga 2 gelombang," ujar Harijanto.

"Nurut sekali (jamaah). Tanpa kita awasi mereka sudah menempati posisi ini sesuai tanda salat. Tanpa kita suruh sudah automatis. Dan itu tidak hanya Jumat saja, salat wajib sehari-hari sudah automatis langsung punya tempat sendiri-sendiri," lanjutnya.

Harijanto mengatakan waktu salat Jumat juga dipersingkat menjadi 13 menit. Dia sudah berkoordinasi dengan khotib dan imam agar menyesuaikan waktu Salat Jumat yang dibatasi.

"Saya sudah kontak dengan khotib dan imam untuk mempersingkat khutbahnya dan imamnya untuk membaca surat-surat pendek. Sehingga kemarin itu saya hitung 10 menit khutbahnya selesai terus lalu imamnya 3 menit. Jadi 13 menit gelombang pertama sudah selesai. Kemudian disambung dengan gelombang yang kedua," ungkapnya.

Harijanto menuturkan pihaknya juga akses keluar masuk jemaah. Pengaturan akses keluar masuk itu bertujuan untuk mencegah jemaah berkerumun ketika memasuki masjid.

"Kita melihat itu dua pekan lalu masih ramai taruh sandal, sandal kan masih berkerumun. Jumat kemarin kita evaluasi harus pakai plastik dibawa ke masjid. Jumat minggu ketiga kemarin sebagian melaksanakan itu, sandalnya dikasih kantong kresek ditempatin, ada yang tidak masih belum optimal," jelasnya

"Sehingga, hari ini kita tegaskan lagi bahwa nanti keluarnya, mereka kan keluarnya lewat pintu yang sama, tapi (nanti) keluarnya lewat belakang. Jadi, gelombang kedua masuknya lewat sini, terus bagi yang gelombang 1 keluarnya lewat belakang, sehingga sandal yang tadinya dilepas di sana itu otomatis dipaksakan harus dibawa ke dalam masjid. Nanti kita kasih itu kantong kresek," sambungnya.

(eva/eva)