Kasus Pencabulan Anak di Parepare, Korban Akan Dirujuk ke P2TP2A Sulsel

Hasrul Nawir - detikNews
Rabu, 24 Jun 2020 19:11 WIB
Ilustrasi Pencabulan Anak. Andhika Akbarayansyah/detikcom.
Ilustrasi pencabulan anak (Andhika Akbaryansyah/detikcom)

"Kami sangat terbuka untuk menerima rujukan. Karena bisa saja korban membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, pengobatan, hingga pendampingan untuk psikologi korban. Kalaupun kami yang harus proaktif, layanan kami siap," papar Meisy.

"Itu agar korban tak merasa sendiri, sehingga dibutuhkan pendampingan yang intens. Karena yang paling rawan itu, ketika korban atau keluarganya hendak mengambil keputusan," sambung dia.

Terkait pendampingan terhadap R yang merasa dipojokkan dalam persidangan, Meisy menyampaikan harus dibangun pola pikir para penegak hukum, terlebih korban masih berusia belasan tahun.

Sebelumnya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Parepare (AMP) melakukan unjuk rasa memprotes kinerja polisi dan jaksa dalam kasus dugaan pencabulan anak, Senin (22/6). Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap kinerja aparat kepolisian Parepare dan Kejaksaan Negeri Parepare yang dituding tidak adil.

"Aksi yang kami lakukan pada hari ini ada beberapa kejanggalan yang kami temukan saat proses hukum kasus tersebut. Dalam persidangan, sebagaimana yang disampaikan oleh ibu korban, coba digiring opini bahwa orang tua lalai dalam mengawasi anaknya," kata koordinator lapangan aksi, Ahmad Ricardy.

Halaman

(aud/aud)