Tim Pakar Gugus Tugas Jabarkan Mekanisme Integrasi Satu Data Corona di RI

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 24 Jun 2020 12:31 WIB
Tim pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dr Dewi Nur Aisyah.
Tim pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dr Dewi Nur Aisyah. (Foto: Dok. BNPB)
Jakarta -

Tim pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dr Dewi Nur Aisyah menjabarkan cara kerja sistem satu data Corona di RI. Dewi mengatakan dalam sistem itu masyarakat bisa mengakses seluruh data dalam satu dashboard yang sama.

Sistem itu dinamai Bersatu Lawan COVID-19 yang sudah disiapkan oleh Gugus Tugas sejak Maret lalu. Dalam sistem tersebut akan terlihat secara rinci terkait pelaporan data kasus Corona di daerah maupun skala nasional.

"Bersatu Lawan COVID untuk percepat alur pelaporan data dari daerah ke pusat. Dan menginformasikan pada masyarakat daerah rawan," ujar Dewi dalam pemaparannya di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2020).

Data Bersatu Lawan COVID-19.Data Bersatu Lawan COVID-19. (Foto: Screenshoot video)

Dewi menjelaskan, data yang diperoleh tim Gugus Tugas berdasarkan laporan dari Puskesmas hingga laboratorium yang kemudian diolah dan dianalisis. Barulah kemudian dimasukkan ke dalam sistem integrasi satu data.

"Kita keluarkan dalam grafik dan informasi yang bisa dilihat dalam satu dashboard yang sama sehingga data kesehatan dan perkembangan kasus bisa dilihat dalam satu dashboard yang sama," jelas Dewi.

Dalam pemaparannya, Dewi juga menunjukkan data penyelidikan epidemiologi yang mencapai 76.813, kemudian manajemen kasus yang dilakukan sebanyak 245.126 data, sampai data 380.013 data suspect COVID yang dilakukan pemeriksaan di laboratorium.

Data Bersatu Lawan COVID-19.Data Bersatu Lawan COVID-19. (Foto: Screenshoot video)

Contoh perkembangan Corona di RI yang dipaparkan Dewi yakni terkait laju penularan di Indonesia per tanggal 11 hingga 17 Mei 2020. Dari data itu, Dewi menyebut ada 26 ribu yang diperiksa, lalu hasilnya hanya 13 persen yang terkonfirmasi positif.

"Kenapa kita angka penambahan besar, per Juni kita periksa 53 ribu tapi kita lihat positif ratenya dari 13-14 persen artinya laju penularannya masih sama di Indonesia, kita tidak bisa bilang memburuk, kondisinya sama, tapi dengan testing yang lebih baik, lebih banyak, kita bisa isolasi pasien yang bisa menularkan ke kelompok rentan, jadi bukan jumlah kasus saja yang kita lihat tapi jumlah pemeriksaan yang kita lakukan," papar Dewi.

(idn/dhn)