Kasus COVID di Aceh Melonjak, Dinkes: Masyarakat Abaikan Protokol Kesehatan

Agus Setyadi - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 16:32 WIB
Ilustrasi Corona
Foto ilustrasi Corona
Banda Aceh -

Jumlah kasus positif Corona di Aceh melonjak drastis dalam 13 hari terakhir menjadi 50 orang. Penularan lokal mulai terjadi di Tanah Rencong. Apa penyebabnya?

"Masyarakat banyak keluar daerah dan mengabaikan protokol kesehatan," kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr Hanif kepada detikcom, Selasa (23/6/2020).

Lonjakan kasus terjadi setelah pasangan suami-istri (pasutri) di Lhokseumawe dinyatakan positif pada Rabu (10/6) lalu. Sampel swab tenggorokan mereka diperiksa di Laboratorium milik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.



Empat hari berselang, lima keluarga dinyatakan positif COVID-19. Empat orang di antaranya berasal dari Lhokseumawe dan satu orang asal Aceh Utara.

Tim gugus tugas melakukan pelacakan. Hasilnya, tujuh orang di Aceh Utara dinyatakan positif Corona pada Rabu (17/6). Pada hari itu, total 10 kasus positif Corona di Tanah Rencong, salah satunya SUK, yang meninggal dunia dalam perawatan.

Sehari berselang, bocah dua tahun di Aceh Utara dinyatakan positif Corona. Dia diduga tertular dari klaster pasutri. Total 15 orang dari keluarga ini positif COVID-19.

Di Aceh Besar, tim gugus tugas melacak orang terdekat dari pasien SUK. Sembilan orang kemudian dinyatakan positif Corona pada Minggu (21/6). Empat orang di antaranya perawat Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh dan lima orang keluarganya.

Menurut Hanif, positif Corona kembali bertambah satu kasus hari ini. Pasien asal Banda Aceh tersebut diperkirakan tertular dari transmisi lokal.

"Tertular dari lokal," jelas Hanif.



Hanif mengimbau masyarakat patuh terhadap anjuran pemerintah untuk memutus mata rantai penularan virus Corona. Dia juga meminta masyarakat tidak berkunjung ke daerah penularan.

"Masyarakat harus patuhi protokol kesehatan dan jangan keluar Aceh," ujar Hanif.

Kadinkes Banda Aceh Media Yulizar, mengatakan, di Aceh saat ini sudah ada dua klaster penularan lokal. Keduanya yaitu klaster suami-istri di Lhokseumawe-Aceh Utara dan klaster di Aceh Besar.

"Yang di Aceh Besar ini merupakan tempat tinggal pasien Corona yang meninggal tempo hari. Kemudian hasil swab-nya: anak, menantu, istri, dan dua cucu almarhum semua positif," ujarnya.



Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani, mengatakan, bila melihat kronologi kasus-kasus terbaru, perlu kesadaran semua pihak untuk menunda perjalanan dan kunjung-mengunjungi, terutama dari dan ke zona merah pandemi COVID-19.

Menurutnya, silaturahmi dapat dilakukan dengan bantuan teknologi informasi, baik dengan orang tua maupun dengan kerabat.

"Masyarakat di dalam dan di lingkungan klaster tersebut tidak perlu panik. Kepanikan kian menambah persoalan. Yang dituntut kewaspadaan dan kepedulian sesama," jelas Saifullah.

Dia meminta masyarakat Aceh lebih waspada menjaga diri dan keluarga dan menunda saling berkunjung secara fisik. Hal ini memerlukan kesadaran semua pihak demi saling menjaga diri dan melindungi antarsesama.

"Pada situasi amat mendesak karena sakit atau kemalangan lainnya, senantiasa memakai masker dan sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik," ujar Saifullah.

Secara kumulatif, kasus positif Corona di Aceh berjumlah 50 orang. Sebanyak 20 orang di antaranya dinyatakan sembuh dan dua orang meninggal dunia.

Tonton juga video 'Sempat Jadi Klaster COVID-19, Bagaimana Kondisi Setukpa Polri Kini?':

(agse/idn)