Kasus 600 Ribu Ekstasi dari Belanda ke RI, 2 WN China Dihukum Seumur Hidup

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 11:26 WIB
Polres Jakarta Barat memusnahkan barang bukti narkoba hasil kejahatan. Barbuk yang dimusnahkan berupa 318 Kg ganja, 12,6 Kg sabu dan pil ekstasi.
Foto ilustrasi ekstasi. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Mahkamah Agung (MA) menolak peninjauan kembali (PK) WN China, Teng Tzu Chiang. Alhasil, Teng dengan temannya, Li Yi Hao, tetap dipenjara seumur hidup karena kasus narkoba.

Kasus bermula saat WN Belanda Siegfried Mets datang ke Indonesia pada penghujung 2007. Setiba di Jakarta, Mets langsung mengadakan pertemuan dengan kaki tangannya, Bahari dan Widya.

Mets mengaku akan mengirim ribuan butir ekstasi dari Belanda yang disarukan ke dalam seperangkat alat las sehingga butuh bantuan Bahari dan Widya untuk meloloskan paket itu di Pelabuhan Tanjung Priok.

Lantas Bahari mengenalkan Mets dengan Sony karena Sony dinilai lebih tahu seluk-beluk Pelabuhan Tanjung Priok. Untuk memuluskan aksinya, Mets lalu menggandeng satu orang, yaitu Robert Mandaey. Rencananya, barang akan dikirim dari Belanda pada 26 Januari 2008 yang dibungkus peti kayu.

Di waktu yang sama, Bahari mencari rumah yang akan disewa guna dijadikan tempat penyimpanan barang laknat itu dan didapati di Taman Palem, Cengkareng, Jakarta Barat. Pada 28 Januari 2008, Mets dan Robert ke lokasi untuk melakukan survei dan membersihkan rumah itu.

Keduanya terlebih dahulu membeli alat-alat kebersihan. Rumah itu disewa dengan biaya Rp 30 juta untuk 6 bulan.

Pada 25 Februari 2008, paket masuk ke Indonesia dan segera dikirim ke Taman Palem. Di situ, paket berpindah dari Blok D9 ke C9.

Lantas komplotan itu ramai-ramai membuka peti kayu dengan linggis. Setelah berhasil dibuka, di dalamnya terdapat bungkusan aluminum foil yang dipres dan berisi 600 ribu butir ekstasi.

Kemudian 600 ribu butir ekstasi itu dipak ke dalam 6 koper, masing-masing koper berisi 100 ribu butir ekstasi. Untuk mendistribusikan barang itu, Mets punya jaringan sendiri, yaitu menggandeng WN Singapura Ong Tiong Yoh, WNI Alexander, serta 3 WN China, yaitu Teng Tzu Chiang, Li Yi Hao, dan Tzu Chiang.

Pada 26 Februari 2008, saat mereka berkumpul untuk membawa masing-masing satu koper dan akan didistribusikan ke ibu kota, aparat dari Polda Metro Jaya menggerebek komplotan itu.

Alhasil, gerombolan mafia ini digelandang ke Mapolda Metro Jaya. Total 12 orang diamankan. Mereka lalu diadili dengan berkas terpisah.

Teng Tzu Chiang- Li Yi Hao diadili secara bersamaan. Keduanya mengaku datang ke Jakarta pada akhir Desember 2017. Pada 27 November 2008, PN Jakbar menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada keduanya.

Dua belas tahun berlalu, Teng mengajukan PK. Ia berharap dapat lolos dari dakwaan. Tapi apa kata MA?

"Tolak kasasi," demikian amar putusan yang dilansir website MA, Selasa (22/6/2020).

Perkara Nomor 411 PK/Pid.Sus/2019 diadili oleh ketua majelis Syarifuddin, yang juga Ketua MA. Adapun anggota majelisnya adalah Andi Samsan Nganro dan Sofyan Sitompul.

Berikut ini daftar hukuman kepada mafia narkoba antarbenua itu:

WN Belanda Siegfried Mets dihukum mati. Hingga kini belum dieksekusi.
WN China Teng Tzu Chiang dipenjara seumur hidup.
WN China Li Yi Hao dipenjara seumur hidup.
WN China Tzu Chiang dipenjara seumur hidup.

Tonton juga video 'Hukum Mati Terpidana Narkoba, Hubungan China dan Australia Merenggang':

(asp/elz)