Kemenkes Ungkap Pasien Corona Berisiko Juga Terkena DBD

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Senin, 22 Jun 2020 13:03 WIB
Mosquito sucking blood on a human hand
Foto: Ilustrasi demam berdarah. (thinkstock
Jakarta -

Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan sebanyak 68 ribu kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia ditemukan pada provinsi yang melaporkan kasus virus (COVID-19) terbanyak. Atas kejadian ini, Kemenkes ungkap kemungkinan pasien Corona dapat berisiko bahkan terjangkit virus DBD.

"Fenomena ini yang terjadi artinya memungkinkan untuk seseorang kalau dia terinfeksi COVID-19 dia juga dapat berisiko DBD. Karena pada prinsipnya sama, DBD adalah suatu penyakit yang sampai sekarang belum ada obatnya, vaksinnya belum terlalu efektif dan salah satu upaya mencegahnya adalah kita menghindari gigitan nyamuk. Dan sama-sama virus ini (antara COVID-19 dan DBD)," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia dalam siaran langsung di youtube BNPB, Senin (22/6/2020).

Nadia pun menjelaskan persamaan antara kondisi awal saat wabah DBD menyerang Indonesia pada 1968 dengan situasi COVID-19. Ia menyebut, angka kematian dan angka kesakitan DBD di tahun tersebut perbandingannya 50 persen.

"DBD ini sendiri bahwa sebenarnya di awalnya ada di Indonesia pada 1968. Dan pada waktu itu sama dengan situasi COVID saat ini angka kematian dan angka kesakitannya 50 persen. Dan kita (kini) sebenarnya sudah bisa menurunkan angka kesakitan dan kematian itu bahkan angka kematian yang tadinya 50 persen bisa turun sampai di bawah 1 persen," ungkapnya.

Disisi lain, Kemenkes menghadapi tiga tantangan dalam pengendalian DBD semenjak adanya pandemi Corona ini. Mulai dari kurang optimalnya kegiatan juru pemantau jentik (Jumantik), hingga beberapa bangunan perkantoran dan sekolah yang mulai kosong semenjak WFH (work from home) diberlakukan.

"Pertama adalah karena kegiatan Jumantik menjadi tidak optimal karena ada social distancing. Yang kedua adalah karena bangunan atau banyak hotel karena kita melaksanakan kebijakan kerja dan belajar dari rumah otomatis tiga bulan lalu gedung-gedung ini banyak sekali yang ditinggal termasuk musala dan tempat ibadah," sebut Nadia.

"Sehingga ini yang menjadi tantangan kita. dan yang ketiga karena masyarakat banyak berada di rumah sehingga penting kita lakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) itu di rumah jadi ini yang menjadi utama tentunya," tambahnya.

(elz/ear)