Rektor IPB Jawab #InstitutPalingBorjuis yang Trending di Twitter

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Sabtu, 20 Jun 2020 20:08 WIB
Rektor IPB University Arif Satria
Rektor IPB Arif Satria (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Tagar #InstitutPalingBorjuis menjadi trending topic di Twitter. Rektor IPB Arif Satria menjawab keluhan mahasiswa soal biaya uang kuliah tunggal (UKT) yang disuarakan lewat tagar tersebut.

"Intinya saya sudah, dari dulu sampai sekarang nggak ada perubahan di IPB. IPB selalu memperhatikan mahasiswa yang kurang mampu, dan memberikan beberapa opsi kan untuk UKT ini. Bisa pengurangan, bisa pencicilan, bisa penundaan, atau bahkan bisa pembebasan, tergantung dari case-nya. Kemudian IPB selalu melibatkan BEM untuk menangani masalah penyusunan UKT ini," kata Arif Satria saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/6/2020).

Saat dilihat, cuitan dengan tagar itu berisi keluhan mahasiswa soal UKT di masa pandemi virus Corona. Diketahui, IPB menetapkan kebijakan kuliah daring bagi mahasiswa untuk mencegah penularan virus tersebut.

Ada sejumlah tuntutan yang disuarakan mahasiswa, yaitu IPB harus menurunkan UKT, membebaskan biaya wisuda daring, menyelesaikan subsidi kuota, dan transparansi UKT. Tagar #NatapLayarTetapBayar juga banyak digunakan bersamaan dengan #InstitutPalingBorjuis.

Tonton juga 'Penjelasan New Normal Menurut Guru Besar IPB':

[Gambas:Video 20detik]

Arif menilai mahasiswa tak perlu membuat gerakan di media sosial. Arif menuturkan dialog antara mahasiswa dan pihak rektorat selalu terbuka.

"Bukan soal tanggapan terhadap trending topic-nya, saya menanggapi dari sisi substansinya. Substansinya, IPB dari dulu sampai sekarang tetap peduli pada mahasiswa yang kurang mampu untuk memberikan keringanan. Dan sekarang sudah clear, sekarang sudah ada 200 orang yang mau ngurus," jelas Arif.

"Tidak perlu, ya sebenarnya tidak perlu ada gerakan gitu karena dialog sudah terus berlangsung antara kami dan perwakilan mahasiswa, rutin dialog itu. Dan saya sudah menjelaskan semua kebijakannya dengan jelas sejelas-jelasnya, bahwa tidak boleh ada mahasiswa IPB yang DO hanya gara-gara tidak bisa membayar UKT," imbuhnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2