Pengelola Masjid di Koja Jelaskan Pertimbangan Gelar Salat Jumat 2 Gelombang

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 19 Jun 2020 16:35 WIB
Suasana Salat Jumat di Masjid Nurul Islam, Kel Tugu Selatan, Koja, Jakut
Suasana salat Jumat di Masjid Nurul Islam, Kelurahan Tugu Selatan, Koja, Jakut (Foto: dok. detikcom)
Jakarta -

Pengelola Masjid Nurul Islam, Koja, Jakarta Utara, menjelaskan pertimbangan menggelar salat Jumat dua gelombang di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. Selain itu, pengelola masjid memastikan protokol kesehatan terkait COVID-19 telah diterapkan.

"Jadi pelaksanaan dua gelombang di Masjid Nurul Islam di RT 15, RW 03, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, itu sudah dilaksanakan sudah tiga Jumat ini. Nah, pelaksanaannya ini, karena kita mematuhi PSBB atau protokol kesehatan, jemaah yang datang duluan itu silakan masuk," kata Kepala Masjid Nurul Islam Harijanto, Jumat (19/6/2020).

Harijanto menjelaskan salah satu hal yang menjadi pertimbangan pengurus adalah lokasi masjid yang berada di tengah permukiman padat.

"Tapi kami sudah memperkirakan. Karena dengan jarak sekian, pasti akan dua kali. Karena kok (kalau) nggak dua kali, mereka ini larinya ke mana. Karena di sini itu termasuk permukiman padat. Jadi masjid ini berdiri di tengah-tengah permukiman padat sehingga mereka gimana kalau seandainya dilaksanakan sekali tapi kita (harus) atur pelaksanaannya jaga jarak. Itu akan menyulitkan jemaah," ujarnya.

Atas hal itu, pengurus masjid sepakat menggelar salat Jumat dua gelombang. Keputusan ini juga, kata Harijanto, mengacu pada Surat Edaran Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta mengenai Hukum dan Panduan Salat Jumat Lebih dari Satu Kali Saat Pandemi COVID-19.

"Dari DMI dan MUI sudah memperkenankan salat Jumat dua gelombang, ya sudah, kami laksanakan itu. DMI sudah lama laksanakan salat Jumat dua gelombang. Ditambah lagi MUI sudah mengeluarkan fatwa dua gelombang juga, ya sudah, kami semakin mantap. MUI Provinsi DKI sudah memberikan, ada fatwanya," jelas Harijanto.