Kemendikbud: Kurikulum Tak Perlu Dituntaskan, Yang Penting Progres Anak

Dwi Andayani - detikNews
Selasa, 16 Jun 2020 18:53 WIB
Speech therapist working with a child on a correct pronunciation using a prop with a letter a picture.
Ilustrasi sekolah (Foto: iStock)
Jakarta -

Masa pembelajaran tahun ajaran baru 2020-2021 akan segera dimulai di tengah pandemi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menilai sekolah tidak perlu memaksakan penuntasan kurikulum.

"Ini yang mungkin menjadi sebuah catatan, kurikulum tidak perlu dituntaskan. Yang paling penting adalah bagaimana ada progres dari setiap anak sesuai dengan di mana dia berada," kata Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Iwan Syahril dalam bincang pendidikan dan kebudayaan yang dilakukan daring, Selasa (16/6/2020).

Iwan mencontohkan, bila pembelajaran masuk kelas V, guru perlu melihat lebih dulu kemampuan anak sebelum memulai pelajaran. Menurutnya, bila dipaksakan, akan berdampak buruk pada anak.

"Jadi tidak dipaksakan kurikulum harus langsung dituntaskan, misalnya kalau di kelas V bahan langsung kelas V gitu, tapi dilihat dulu muridnya seperti apa. Jadi ini sebuah tips untuk memastikan bahwa progres akan terjadi," kata Iwan.

"Sebab, kalau dipaksakan, misalnya dengan kurikulum kelas V tanpa melihat anak seperti apa pada saat ini, nanti dampaknya akan semakin buruk," sambungnya.

Iwan mengatakan hal ini dilakukan karena adanya kemungkinan anak tertinggal pembelajaran pada saat masa belajar di rumah.

"Mungkin ada hal-hal yang tertinggal karena beberapa bulan terakhir pembelajaran tidak berjalan seperti yang sebelumnya. Yang kelas V tadi mungkin ada anak yang sudah tertinggal, mungkin sedikit, atau ada yang masih bisa mengikuti sesuai dengan ekspektasi kurikulum tahun ajaran kemarin," tuturnya.

Karena itu, menurut Iwan, perlu adanya diferensiasi pada setiap anak. Hal itu lantaran adanya perbedaan kebutuhan dalam pembelajaran.

"Jadi perlu ada semacam diferensiasi karena kita bisa membantu anak-anak yang berbeda dengan tuntutan atau kebutuhan belajar yang berbeda-beda," pungkas Iwan.

(dwia/mae)