ADVERTISEMENT

Round-Up

Penyerang Novel Dituntut 1 Tahun Penjara, Dianggap Tak Sengaja Siram Kepala

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 12 Jun 2020 08:19 WIB
Dua orang anggota polisi aktif pelaku penyerangan kepada Novel Baswedan dibawa keluar dari Polda Metro Jaya. Keduanya hendak dipindahkan ke Bareskrim Polri.
Foto Penyerang Novel Baswedan: (Ari Saputra-detik)

Tanggapan Novel Baswedan

Novel Baswedan menyebut sidang kasus penganiayaan berat terhadapnya hanya formalitas belaka. Sebab, dua terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir hanya dituntut 1 tahun penjara.

"Hari ini kita lihat apa yang saya katakan bahwa sidang serangan terhadap saya hanya formalitas. Membuktikan persepsi yang ingin dibentuk dan pelaku dihukum ringan," kata Novel melalui akun Twitternya @nazaqistsha, Kamis (11/6).

Novel mengatakan sudah menduga hal itu akan terjadi sejak awal penyidikan kasus tersebut. Dia menilai terjadi suatu kebobrokan hukum yang dipertontonkan secara vulgar.

"Memang hal itu sudah lama saya duga, bahkan ketika masih diproses sidik dan awal sidang. Walaupun memang hal itu sangat keterlaluan karena suatu kebobrokan yang dipertontonkan dengan vulgar tanpa sungkan atau malu," sebutnya.

Novel pun merasa miris dengan kondisi penegakan hukum saat ini. Dia menyebut penegakan hukum di negara ini telah rusak.

"Selain marah saya juga miris karena itu menjadi ukuran fakta sebegitu rusaknya hukum di Indonesia. Lalu bagaimana masyarakat bisa menggapai keadilan? Sedangkan pemerintah tak pernah terdengar suaranya (abai)," tuturnya.

Sementara itu, tim advokasi Novel menilai tuntutan 1 tahun penjara terhadap dua terdakwa penyiraman air keras terhadap Novel, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis terlalu ringan. Mereka menyebut ringannya tuntutan itu menunjukkan ketidakberpihakan hukum terhadap korban kejahatan.

"Sandiwara hukum yang selama ini dikhawatirkan oleh masyarakat akhirnya terkonfirmasi. Penuntut pada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta hanya menuntut dua terdakwa penyerang Novel Baswedan 1 tahun penjara. Tuntutan ini tidak hanya sangat rendah, akan tetapi juga memalukan serta tidak berpihak pada korban kejahatan, terlebih ini adalah serangan brutal kepada penyidik KPK yang telah terlibat banyak dalam upaya pemberantasan korupsi. Alih-alih dapat mengungkap fakta sebenarnya, justru penuntutan tidak bisa lepas dari kepentingan elite mafia korupsi dan kekerasan," kata salah satu anggota tim advokasi Novel Baswedan, Kurnia Ramadhana, dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6).

Kurnia mengatakan, sejak awal tim advokasi Novel Baswedan sudah menemukan banyak kejanggalan dalam persidangan tersebut. Kejanggalan yang ada dalam persidangan itu menunjukkan hukum digunakan bukan untuk keadilan, namun hukum digunakan untuk melindungi pelaku. Untuk itu, tim advokasi Novel Baswedan menuntut tiga hal.

"Tim advokasi Novel Baswedan menuntut, majelis hakim tidak larut dalam sandiwara hukum ini dan harus melihat fakta sebenarnya yang menimpa Novel Baswedan, Presiden Joko Widodo untuk membuka tabir sandiwara hukum ini dengan membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) independen, dan Komisi Kejaksaan mesti menindaklanjuti temuan ini dengan memeriksa jaksa penuntut umum dalam perkara penyerangan terhadap Novel," pungkasnya.


(zap/dhn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT