Kementerian PPPA Sebut Angka Perkawinan Anak Meningkat di Masa Pandemi Corona

Kadek Luxiana - detikNews
Kamis, 11 Jun 2020 17:36 WIB
Seorang siswi menunjukkan pin bertuliskan
Ilustrasi (Foto: Pool)
Jakarta -

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyebut angka perkawinan anak pada usia dini meningkat pada masa pandemi Corona. Tercatat kenaikannya mencapai 24 ribu.

Hal itu diungkapkan Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan Keluarga dan Lingkungan Rohika Kurniadi dalam diskusi virtual bertema Gerakan #PulihBersama agar Anak Terlindungi dan Indonesia Maju. Data itu berdasarkan data yang diperoleh KPPPA melalui Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Badilag).

"Tentang perkawinan anak, kami baru mendapatkan data dari Badilag yang memang kenapa kasus anak ini dengan dispensasi perkawinan kok cukup tinggi pada saat pandemi ini. Ini juga yang menjadi telaah kami kenapa kasusnya kok naik 2019 cukup signifikan, hampir 24 ribu yang melaporkan minta dispensasi kawin," kata Rohika, Kamis (11/6/2020).

Rohika menuturkan kenaikan itu menjadi salah satu perhatian tersendiri bagi KPPPA. Dia mengatakan banyak orang tua yang menganggap bahwa menikahkan anak pada usia dini merupakan bagian dari solusi penyelesaian masalah ekonomi, terlebih pada saat banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) saat pandemi Corona.

"Ini kan juga menjadi perhatian, artinya bahwa kita lihat banyak sekali para orang tua mengambil jalan eksekusi ketika kemarin memang terjadi mungkin banyak terjadi PHK dan karena situasi pandemi ini tidak terbangunnya hubungan kelekatan yang tangguh sehingga juga mempengaruhi tadi banyaknya solusi yang dianggap solusi oleh para orang tua, menikahkan di usia anak," tuturnya.

Rohika menjelaskan perlu adanya sosialisasi terkait dampak dari perkawinan anak di usia dini. Rohika mengatakan pihaknya akan melakukan penguatan sebagai langkah pencegahan perkawinan anak usia dini.

"Nah, ini kenapa dikawal di dalam undang-undang untuk sosialisasi kembali supaya ini kan dampak-dampak yang baru kita lihat dan kita juga akan melakukan penguatan-penguatan di desa meskipun dalam posisi yang sangat sulit di masa pandemi ini, kita kan nggak bisa seperti pada saat normal melakukan penjangkauan secara offline," ujarnya.

"Nah, ini yang menjadi pertimbangan-pertimbangan kita, untuk kita menguatkan keluarga. Itu juga bagian dari rencana aksi kita untuk menyasar orang tua baik itu dari keluarga maupun orang orang tua yang menjaga anak yang ada di luar keluarga untuk kita tetap mendapatkan pengetahuan ataupun kapasitas melalui media-media yang saat ini mungkin susah dijangkau, tapi tetap kita masifkan itu salah satu upaya pemerintah lakukan intervensinya," sambung Rohika.

(eva/eva)