Penyalur 2 WNI ABK yang Lompat dari Kapal China Ditangkap, Begini Modusnya

Andhika Prasetia - detikNews
Kamis, 11 Jun 2020 13:17 WIB
Tersangka S (duduk) yang merekrut 2 WNI ABK Kapal China ditangkap di kediamannya.
Foto: Tersangka S (duduk) yang merekrut 2 WNI ABK Kapal China ditangkap di kediamannya. (Istimewa)
Jakarta -

Polisi menangkap Syafruddin yang merupakan penyalur 2 WNI ABK yang lompat dari kapal berbendera China di Selat Malaka. Syafruddin sudah dibawa ke Bareskrim Polri untuk keperluan pengembangan perkara.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo mengatakan, Syafruddin ditangkap pada hari Kamis (11/6) pukul 00.30 WIB di rumahnya yang berlokasi di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Syafruddin diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan mengiming-imingi gaji besar kepada WNI ABK yang bekerja di kapal ikan Lu Qing Yuan Yu 901.



"Pelaku melakukan dugaan TPPO dengan cara melakukan perekrutan dan pengiriman WNI dengan iming-iming (penipuan) gaji yang besar serta dieksploitasi untuk melakukan pekerjaan kasar di Kapal Penangkap berbendera China tanpa menerima gaji selama bekerja di kapal (tidak sesuai kesepakatan untuk bekerja buruh pabrik di Negara Korea Selatan)," ujar Ferdy dalam keterangannya, Kamis (11/6/2020).

KTP, buku rekening, dan HP milik Syafruddin turut diamankan polisi. Polisi masih melakukan pengembangan kasus terkait kemungkinan keterlibatan pelaku lain.



"Rencana tindak lanjut, mencari dan melakukan pemeriksaan saksi terkait kasus yaitu Imigrasi dan Syahbandar Tj Priok yang mengeluarkan Paspor dan Seaman's Book, mencari dan mengumpulkan bukti-bukti lainnya, melakukan pengembangan kemungkinan ada keterlibatan pelaku lainnya," ujar Ferdy.

Diketahui, 2 WNI ABK berinisial AJ (30) dan R (22) mengalami perbudakan di kapal berbendera China di Selat Malaka. Kedua ABK nekat terjun ke laut setelah menyadari Kapal Fu Lu Qing Yuan Yu memasuki wilayah perairan Indonesia. Keduanya melompat dari kapal yang melintas di wilayah Selat Malaka.

"Selama di atas kapal bekerja, lalu terjadi kekerasan dan istirahat, serta makan tidak cukup. Sehingga para pekerja asal indonesia yang ada di atas itu tidak betah bekerja," kata Direktur Polisi Air (Dirpolair) Polda Kepri Kombes GR Gultom saat dikonfirmasi detikcom, Sabtu (6/6).

(dkp/idh)